Kenali dirimu, kenali musuhmu, maka engkau tidak akan celaka. Diktum
yang terkenal itu sudah dipesan oleh Sun Tzu sejak empat abad sebelum
Masehi, ditulis dalam buku Seni Perang, dan (nampaknya) masih perlu
diperhatikan sampai sekarang ini.
Pesan tersebut perlu dipahami dengan baik oleh bangsa Indonesia yang
‘ingin’ dan bertekad untuk dikenal sebagai NKRI. Siapakah yang
dimaksudkan dengan bangsa Indonesia (core values), ada dimana mereka
(geography), dan mereka punya apa (natural resources)?
Belakangan ini, banyak pihak sering mempertanyakan kinerja lembaga
intelijen, yang terkesan tidak optimal, tidak maksimal, atau tidak
memenuhi harapan banyak pihak. Memang benar bahwa tolak ukur untuk
menakar kinerja jajaran intelijen, akan menjadi bahan perdebatan yang
tidak kunjung selesai. Hal ini disebabkan tiga hal, yaitu (i) latar
belakang kepentingan yang berbeda, (ii) pengetahuan tentang intelijen
yang relatif terbatas, dan (iii) memahami intelijen dari satu school of
thought yang spesifik, misalnya penganut paham Clausewitz.
Mengenai poin yang ketiga, penganutnya cukup banyak di Nusantara ini
dan mereka paham betul mengenai pandangan Carl von Clausewitz tentang
intelijen, yang secara tegas mengemukakan dalam bukunya On War bahwa :
many intelligence reports in war are contradictory; even more are false,
and most are uncertain. In short, most intelligence are false.
Globalisasi dan Strategi NKRI
Ada berbagai batasan mengenai globalisasi, tetapi tulisan ini mengacu
pada pandangan Michael D. Intriligator yang mengemukakan: Globalization
is a powerful real aspect of the new world system, and it represents
one of the most influential forces in determining the future course of
the planet. It has manifold dimensions: economic, political, security,
environmental, health, social, cultural and others.
Pandangan tersebut mengemukakan bahwa, paling tidak, ada tujuh aspek
terkait dengan globalisasi, berarti ada tujuh spektrum informasi yang
sangat diperlukan NKRI, agar dapat memetik manfaat dari globalisasi.
Kebutuhan tersebut bersifat mutlak, artinya tanpa informasi yang memadai
dan akurat, NKRI pasti akan menghadapi sisi negatif dari globalisasi.
Pengetahuan tersebut sudah diingatkan oleh Joseph Stiglitz bahwa:
Globalization today is not working for many of the world poor. It is not
working for much of the environment. It is not working for the
stability of the global economy.
Suatu realita yang perlu disadari oleh semua pihak, bahwa Indonesia
tidak sendirian di muka bumi ini, tetapi justru berada pada posisi
stratejik dan tidak mungkin menghindari pertemuan dengan
kepentingan-kepentingan (baca: strategi raya) dari pihak lain.
Situasi tersebut sudah mengisyaratkan bahwa ada kebutuhan yang sangat
mendasar, yaitu merumuskan strategi nasional. Mengacu pada pemahaman
yang sederhana, seperti diajarkan oleh Colonel (Ret.) Arthur Lykke
kepada seluruh generasi lulusan US Army War College bahwa, strategi
terdiri dari tiga komponen yaitu sasaran (objectives), cara atau konsep
(ways), dan sarana atau sumber daya (means).
Penetapan ketiga komponen tersebut, membutuhkan sejumlah informasi
terkait, yang harus akurat dan aktual, artinya tidaklah mungkin
merumuskan strategi yang tepat, terarah dan terukur, tanpa dukungan
intelijen.
Strategi pembangunan Nasional NKRI mengacu pada konstitusi yang
menggariskan bahwa “melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.
Bukanlah perkara yang mudah bagi NKRI untuk mencapai strategic
objectives di atas, pada era globalisasi yang berkembang bersamaan
dengan era informasi, dan dikendalikan oleh negara industri dan atau
negara maju.
Mereka menguasai teknologi maju, juga teknologi informasi yang sangat
andal, punya modal yang kuat didukung pula oleh sistem yang robust
(IMF, World Bank, WTO), memampukan mereka mengendalikan tujuh aspek
globalisasi seperti yang dikemukakan oleh Michael D. Intriligator
(economic, political, security, environmental, health, social,
cultural).
Peta Kebutuhan Intelijen Kontemporer
Pengalaman pribadi di era awal 1980-an yang ingin diungkapkan disini
ialah (banyak) pejabat dalam kapasitas pembuat keputusan sering
mengabaikan peran intelijen, dan sikap mereka sepertinya penganut
Clausewitz, yang mengatakan ‘met of zonder intel, kita jalan terus’.
Begitu pula di dalam lingkungan pendidikan, sewaktu belajar membuat
Rencana Operasi, sering sekali pihak pembimbing memutuskan lampiran
intelijen untuk di pre-memory.
Pada aras stratejik di lingkungan birokrat, misalnya jajaran
setingkat Kementrian, sepertinya kurang peduli dengan dukungan intelijen
stratejik, hal ini barangkali disebabkan oleh beberapa hal, misalnya;
(i) persepsi mereka yang memandang intelijen sebatas aras kegiatan
spionase, (ii) trauma terhadap kinerja intelijen di masa lalu, (iii)
sudah terbiasa membuat program tanpa intelijen stratejik, sebaliknya —
menggunakan asumsi-asumsi yang dianggap dapat membantu, (iv) tidak
adanya divisi intelijen yang tersedia untuk mendukung kegiatan
perencanaan.
Pada masa perang dingin, informasi yang paling dibutuhkan adalah
mengenai kekuatan ‘mesin’ perang (strategic capabilities), tentang
perimbangan kekuatan militer, berikut logistik (arti luas) untuk
mendukung persebaran (deployment) kekuatan operasional.
Tetapi pada era pasca perang dingin, pasca perang Libanon (2006),
informasi yang paling dibutuhkan adalah mengenai kekuatan ‘mesin’
ekonomi, yang menyebarkan liberalisasi perdagangan, menggalakkan pasar
bebas, dan membuka akses menerobos ke sentra kekayaan alam di berbagai
penjuru dunia.
Kembali ke pertanyaan awal, siapakah NKRI? Sudah pasti akan muncul
berbagai jawaban, namun dapat disederhanakan dalam rumusan berikut ini;
(i) bangsa yang terdiri dari 1072 etnik (Anhar Gonggong-2011) kini
berjumlah 240 juta jiwa, adalah potensi pasar yang sangat besar bagi
produk negara maju, obyek globalisasi, (ii) mendiami gugusan pulau
17.449 yang terbentang kurang lebih 5000 mil timur barat, dan 1700 mil
utara selatan, yang secara alamiah memiliki domestic life lines
terpanjang di dunia, (iii) memiliki kekayaan alam di darat (30%) dan di
laut (70%) yang belum terinventarisasi secara baik dan terpadu.
Strategi pembangunan nasional membutuhkan informasi yang aktual dan
akurat mengenai ketiga poin tersebut, dan perlu pula dibagi dalam tiga
blok, yaitu basic descriptive elements, current reportorial elements,
dan predictive-evaluative elements. Secara teoritik, penyiapan program
pembangunan nasional juga memerlukan dukungan intelijen yang meliput
tujuh aspek globalisasi, yakni: ekonomi, politik, hankam, lingkungan,
kesehatan, sosial dan budaya.
Akan tetapi ada beberapa indikator yang mengisyaratkan bahwa dukungan
intelijen nasional yang tersedia, sepertinya kurang memadai. Tidak
mengherankan apabila para arsitektur program tersebut, cenderung
menggunakan asumsi, sintesa, dan sebagainya, untuk mengisi kekosongan
informasi terkait.
Beberapa indikator tersebut, adalah; (i) arti pentingnya transportasi
laut untuk mengisi domestic life lines yang terpanjang di dunia, kurang
mendapatkan atensi yang proporsional, (ii) kondisi ekonomi daerah di
514 kabupaten/kota tidak sama ‘sehat’, dan tidak siap untuk menghadapi
era pasar bebas, misalnya AFTA, agenda ASEAN Economic Community, Trans
Pacific Partnership, (iii) legislasi untuk pengamanan kekayaan alam,
tidak lagi mengakar pada pasal 33 UUD NRI 1945, sebaliknya membuka lebar
akses bagi kekuatan ekonomi global.
Situasi di atas menyiratkan secara jelas bahwa NKRI masih miskin
intelijen maritim, dan dampaknya adalah perumusan kebijakan dan strategi
menjadi tidak jelas (blurred). Bukan suatu kebetulan apabila
Information Sharing Center, Information Fusion Center di bidang keamanan
maritim untuk ASEAN bermarkas di Singapore. Dalam bahasa teknis artinya
supremasi informasi keamanan maritim ada di pihak Singapore, dan mereka
pula yang mengendalikan keamanan maritim di seluruh perairan Asia
Tenggara.
Peta kebutuhan informasi bagi NKRI, perlu menaruh perhatian yang
proporsional terhadap ‘tumpah darah’ di laut yang luasnya duapertiga
dari wilayah darat. Konon disana ada potensi ekonomi yang sangat besar
dan mampu mengangkat NKRI menjadi lima besar dunia.
Kontruksi Intelijen Indonesia
Bagaimana gambaran pengorganisasian intelijen di Indonesia? Pada
tataran nasional, ada Badan Intelijen Negara (BIN) yang dirancang
sebagai ‘penjuru’ dalam urusan intelijen nasional. Pada tataran
stratejik, misalnya di KemHukham, KemPerdagangan, KemKeu, telah
mengembangkan divisi intelijen, sedangkan di Kemhan, konon disana belum
dilembagakan fungsi intelijen pertahanan nasional.
Pada jajaran intelijen militer memang sudah ada Badan Intelijen
Strategis, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan operasional militer.
Tetapi di jajaran angkatan (darat-laut-udara) tidak ada divisi
intelijen, melainkan divisi pengamanan yang secara teoritik lingkupnya
adalah counter intelligence (pam-pers, pam-dok, pam-mat, dan
seterusnya).
Konstruksi tersebut dirancang pada era Orde Baru yang menggariskan
kegiatan intelijen hanya ‘satu pintu’ dan cenderung berat pada ‘negative
intelligence’. Salah satu indikatornya adalah penggarisan yang
menetapkan bahwa penyelenggaraan intelijen maritim atas perintah
Menhankam/Pangab. Sepanjang pengetahuan penulis, perintah tersebut belum
dicabut sampai sekarang.
Padahal setiap angkatan sudah punya lembaga pendidikan intelijen,
yang mencetak kapabilitas untuk mengindra ancaman kematraan mulai dari
skala low probability sampai pada high impact. Di sana sudah diajarkan
bahwa fungsi hakiki intelijen yaitu to avoid surprise, yang harus
dijabarkan dalam berbagai aras (stratejik, taktis operasional) dan
lingkup kebutuhan (politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan).
Secara sederhana, intelijen dituntut untuk menyediakan informasi,
data, pengetahuan, yang ‘sempurna’ untuk memenuhi kebutuhan perencanaan,
dan pengambilan keputusan. Secara sederhana pula, dapat ditegaskan
bahwa masukan intelijen yang baik, akan menghasilkan perencanaan yang
baik, dan selanjutnya pengambilan keputusan yang tepat.
Sebaliknya, tanpa masukan intelijen yang baik, tidaklah mungkin
membuat suatu rencana (strategic planning), atau strategi raya (grand
strategy), atau strategi keamanan nasional (national security strategy),
yang memenuhi kriteria feasible, acceptable, suitable. Semua arsitek
perencanaan stratejik sangat paham apa arti knowledge is power.
Langkah Ke Depan
Mewujudkan supremasi intelijen di era globalisasi untuk kejayaan
NKRI, bukanlah perkara sesulit seperti membuat roket luar angkasa. Modal
dasarnya adalah kemauan yang kuat, dan janganlah terlalu
‘Clausewitzian’. Kemauan yang kuat didasarkan pada kebutuhan yang
bersifat mandatory, katakanlah – to be or not to be, oleh karena tidak
ada pilihan lainnya.
Langkah awal adalah membenahi arsitektur jajaran intelijen, menata
kedudukannya sesuai aras kepentingan, berada pada strata nasional,
stratejik, operasional dan mungkin sampai pada aras teknis. Ada
kebutuhan untuk membentuk embrio intelijen pada sektor stratejik yang
dipandang perlu dukungan intelijen, misalnya pada sektor ekonomi,
perdagangan, perbankan.
Secara khusus perlu juga meninjau peran intelijen militer, sebaiknya
tidak membatasi pada dimensi pengamanan dan sektoral. Misalnya TNI-AL
tidak membatasi pada naval intelligence, tetapi lebih luas yaitu
maritime intelligence, yang mampu menyediakan informasi kepada semua
pemangku kepentingan maritim nasional.
Langkah berikutnya adalah membangun kapasitas untuk memenuhi semua
aras, dan sektor kepentingan, yang berkembang mengikuti perubahan
lingkungan stratejik. Membangun kapasitas dalam pengertian untuk
mengawaki wadah ‘baru’ intelijen, bukan karena ‘latah’ mencontoh pihak
lain, tetapi karena ada enam faktor berpengaruh, yaitu; (i) the
changing nature of threats, (ii) the changing nature of peace, (iii) the
changing nature of warfare, (iv) the changing nature of information,
(v) the changing national security strategy, (vi) the pace of
technological change.
Penulis tidak menafikan bahwa ada kesulitan yang tersembunyi untuk
membangun arsitektur intelijen yang ‘baru’, yaitu kultur ego-sektoral
yang sangat kuat melekat pada semua jajaran intelijen yang eksis.
Bagi NKRI yang kekuatan ekonomi masih lemah dan belum mampu membangun
arsitektur intelijen yang besar dan perkasa, pilihan yang tersedia
adalah konsolidasi jajaran intelijen nasional, untuk ditransformasikan
menjadi institusi yang modern, dan memilki kesadaran yang kuat mengenai
lingkungan stratejik. Seperti pesan Sun Tzu : know yourself, and know
the enemy, and you will not be peril.
(JMOL)