Pages

Friday, 15 June 2012

TERGANTUNG SIAPA MEMANGNYA???



Di tengah riuhnya pemberitaan kasus-kasus yang membelit partai-partai politik yang tanpa henti menjadi berita utama di media-media nasional, ada satu kabar ‘penting’ yang hampir pasti tidak mendapatkan porsi layak di media kita. Kabar itu datang dari kontingan TNI AD kita yang (lagi-lagi) menjadi juara umum kejuaraan menembak jitu Australian Army Skills at Arms Meeting (AASAM) 2012, sebuah ajang bergengsi berskala dunia yang diikuti berbagai personel angkatan darat dari berbagai negara di dunia.

Bukan main-main, para tentara TNI AD merebut juara umum ketiga kalinya berturut-turut, dan pada event yang baru saja berakhir tersebut, mereka mengumpulkan 25 medali emas, separuh dari medali emas yang disediakan untuk seluruh kontingen. Perolehan tersebut jauh di atas perolehan personel AD dari negara-negara yang selama ini dikenal kuat secara militer, seperti AS, Inggris, Prancis, bahkan tuan rumah Australia.


Bukan itu saja, berungkali para pemuda Indonesia di TNI AD menjuarai lomba menembak di berbagai even dunia, saya masih ingat betapa mereka selalu menorehkan prestasi membanggakan dalam kejuaraan2 di ASEAN, dan dalam misi PBB di Lebanon.

Apa arti semuanya?
Kita tidak boleh lupa, bahwa para pendahulu kita adalah para warrior sejati, pejuang dengan patriotisme tinggi, dan rela menanggalkan apa saja kepunyaan mereka untuk membela bangsanya. Dari prestasi-prestasi di atas, saya melihat bahwa profesionalisme para prajurit kita, para komandan dan pelatihnya, tak lepas dari tradisi pembinaan berkesinambungan yang sangat baik. Prestasi-prestasi di atas tentu sedikit banyak menjadi parameter kemampuan personel angkatan bersenjata Indonesia yang di atas rata-rata militer tetangga kita, bahkan negara-negara barat yang selama ini menjadi tolok ukur kekuatan militer.

Jangan salah, senjata yang dipegang para prajurit dalam menjuara turnamen-turnamen tersebut adalah senapan serbu produksi dalam negeri, yakni SS-2 produksi PT Pindad. Tentu harus kita akui, secara teknologi, kemampuannya masih dibawah senapan-senapan yang dipakai personel negara peserta lain, seperti Steyr Aug, MP4 Carbine, atau HK G36, namun kenapa justru SS-2 yang menjadi raja? Tak lain dan tak bukan adalah orang yang memegangnya. Kemampuan individu para prajurit negeri ini jelas menjadi oase penting, bahwa dengan tradisi kesungguh-sungguhan, kita mampu sejajar dengan bangsa lain, bahkan di atasnya.

Bravo, tentara Indonesia.

sumber:GOODnews

Investasi Industri Pertahanan Ditargetkan Rp100 Triliun

Presiden Direktur PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) Antung Pandoyo, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak, saat peresmian pabrik Amonium Nitrat (AN) terbesar di Indonesia, di kawasan Kaltim Industrial Estate, Tursina, Bontang, Jumat (15/6/2012) pagi. Peresmian ini menandai mulai dioperasikannya pabrik AN terbesar di Indonesia dan memastikan kesiapan pabrik AN yang memiliki kapasitas produksi Amonium Nitrat 300.000 MT/tahun untuk mendukung industri pertambangan Indonesia. (Foto: okezone)

16 Juni 2012, Bontang: Pemerintah menargetkan nilai investasi industri pertahanan nasional bisa mencapai sekitar Rp100 triliun dalam waktu lima tahun. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pihaknya akan terus mendorong masuknya investasi di industri pertahanan, baik oleh swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN).

Nilai investasi industri pertahanan tersebut terdiri atas berbagai macam sektor seperti alat utama sistem senjata (alutsista), pabrik peluru kendali (rudal), dan bahan peledak berkekuatan rendah atau amonium nitrat. Peningkatan investasi juga akan menaikkan devisa negara. Menurutnya, target tersebut bisa terpenuhi tidak hanya melalui pembangunan pabrik baru, tapi juga penambahan investasi serta kapasitas produksi.

Dia mencontohkan, pabrik amonium nitrat PT KNI yang senilai Rp4 triliun. ”Saat ini kapasitas produksinya 300.000 ton per tahun, sebelumnya hanya sekitar 120.000-150.000 ton per tahun,” kata Purnomo seusai peresmian pabrik amonium nitrat PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang, Kalimantan Timur,kemarin. Purnomo memperkirakan, kebutuhan amonium nitrat nasional terus meningkat menjadi 800.000 ton per tahun pada 2014-2015.

Saat ini kebutuhan amonium nitrat sekitar 600.000 ton per tahun. ”Ditambah produksi MNK (PT Multi Nitrotama Kimia) di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, produksi dalam negeri menjadi lebih besar,”ucapnya. Saat ini hanya ada dua pabrik amonium nitrat di dalam negeri yakni PT KNI dan PT MNK.Sebenarnya ada satu lagi perusahaan BUMN di Bontang yakni PT Dahana, namun hingga kini masih belum diketahui secara jelas soal investasinya.

Lebih lanjut Purnomo menjelaskan, saat ini investor lainnya yakni PT Batuta tengah menjajaki investasi pembangunan pabrik amonium nitrat di Bontang.Dia mengaku sudah menerima proposal rencana investasi PT Batuta. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak menambahkan, pihaknya mendukung investor di Bontang dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif, keamanan berinvestasi, menjamin kepastian hukum, serta mempermudah perizinan.

Awang mengungkapkan, Bontang menempati urutan kelima dari 33 provinsi terkait penanaman modal asing (PMA), nomor tiga untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), dan masuk dalam 10 besar regional champion investasi. Dia menyebutkan, realisasi investasi di Bontang tahun lalu mencapai Rp38 triliun, melampaui target awal Rp32 triliun.” Tahun ini kami targetkan Rp42 triliun.Termasuk industri batubara. Dua blok migas sedang dikembangkan,”ucapnya.

Direktur Utama PT KNI Antung Pandoyo optimistis, perusahaan yang dia pimpin bakal menjadi produsen amonium nitrat terbesar di Indonesia, bahkan mungkin Asia Tenggara. PT KNI akan berperan penting sebagai aset nasional untuk melayani industri pertambangan di dalam negeri. Pembangunan pabrik tersebut juga akan menghemat devisa negara hingga USD150 juta. ”USD150 juta asumsinya harga USD500 per ton. Itu dikali 300.000 ton. Kalau harga USD600, akan lebih besar,”tandasnya.

Sumber: SINDO

Thursday, 14 June 2012

Perancis Obral Alutsista Dan ToT Ke Indonesia

 
 
BJKGR-(IDB) : Perancis datang ke Indonesia di saat yang tepat, akan tetapi sekaligus memberikan pilihan yang sulit. Negara pembuat Frigate La Fayette ini tiba tiba saja menawarkan transfer teknologi, untuk berbagai jenis mesin perang. Perancis seolah-olah tahu, Indonesia sedang “mumet” dengan urusan Transfer of Technology (ToT) yang beberapa kali “dikerjai” oleh negara yang diajak bekerjasama.

Dua tawaran yang disorong oleh Perancis adalah transfer teknologi untuk meriam kelas berat Caesar 155mm, jika Indonesia membeli dalam jumlah besar. Tawaran berikutnya yang menggiurkan adalah penjualan mesin pesawat tempur untuk Indonesian fighter jets experiment (IFX), jika Indonesia bersedia membeli pesawat Rafale.

IFX tampaknya harga mati yang dipatok oleh pemerintah untuk membuat lompatan teknologi di tanah air yang sudah lama terhenti. Pemerintah sangat percaya diri dengan pembangunan IFX, karena Indonesia cukup maju di teknologi dirgantara. 

Jika proyek IFX ingin berjalan mulus, TNI AU tampaknya harus berpaling dari rencana ke depan yang ingin membeli Sukhoi SU-35, ditukar dengan Rafale Perancis.
 
 
 
Jet Tempur Rafale Perancis
 
Hingga kini belum ada negara asing yang membeli jet tempur Rafale, sehingga Perancis harus menambahkan opsi ToT, agar jet tempurnya dibeli orang. Pola pembelian alutsista plus ToT sudah dilakukan Indonesia untuk Panser Anoa dan Ranpur Sherpa. 
 
Persoalan lain bagi Indonesia sekaligus peluang bagi Perancis, adalah pembangunan 3 kapal selam Changbogo Indonesia, oleh Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan meminta uang 300 juta USD, jika Indonesia menginginkan transfer teknologi dari kapal selam tersebut.

Kalau klausal itu tidak dipenuhi, maka pengorbanan membeli tiga kapal selam kelas “anjing kampung” yang bergerak sangat lamban akan menjadi sia-sia. Untuk apa membeli kapal selam seperti itu, jika tidak disertai Transfer of Technologi.

Tapi apakah Indonesia yang uangnya pas-pasan mau merogoh kocek tambahan 300 juta USD, demi mendapatkan ToT kapal selam Changbogo ?. Godaannya adalah, dari pada menambah uang 300 juta USD, lebih baik dibelikan kapal selam Kilo Class Rusia.

Kemampuan tempur kapal selam Kilo Class, tidak perlu diperdebatkan lagi. Negara Barat saja menyebutnya sebagai lubang hitam (Black-Hole), bagi sistem pertahanan mereka.

Namun untuk mendapatkan Kilo Class, bukan perkara gampang, karena pengadaan alutsista harus disertai ToT, seperti yang diamanatkan Presiden SBY. Sementara kita semua tahu untuk urusan ToT, Rusia sangat “pelit”, terutama bagi negara non-sekutu lama mereka.

Di sinilah posisi Perancis menjadi penting. Perancis menawarkan penjualan kapal Selam sekaligus dengan ToT-nya kepada Indonesia.

“Kalau ingin membeli kapal selam yang bagus, jangan ke Korea yang “KW2″, beli langsung ke pembuatnya, seperti kami”, ujar salah seorang pejabat Perancis.
 
 
 
Scorpene Class Perancis,
 
Di tengah krisis Eropa saat ini, Perancis tidak terlalu perduli untuk membatasi transfer teknologi militer konvensional. 
 
Bahkan Perancis pun menawarkan penjualan rudal konvensional tercanggihnya Exocet MM40 Block III. Padahal sebelum krisis Eropa, untuk mendapatkan Exocet MM-40, Indonesia sangat kesulitan dan dihadapkan pada jalan yang berliku.
 
“Tuan….barang dagangan sudah digelar. Now…..make your Choice !”, mungkin begitulah yang disampaikan pejabat militer Perancis yang sudah tahu masalah yang dihadapi para Petinggi TNI dan Kemenhan.

Selain munculnya masalah dalam pembelian kapal selam Changbogo, pengadaan Light Frigate Sigma 10514 juga masih menyimpan persoalan.

Anggota Komisi 1 DPR, berniat menyoal pembelian Sigma 10514, karena tidak disertai dengan ToT yang diharapkan. Wakil Ketua Komisi 1 DPR, TB Hasanuddin, mempertanyakan mengapa Orrizonte Fincantieri Mosiaic Italia tidak jadi dibeli, padahal Italia bersedia melakukan ToT 25 %.

Di tengah persoalan itu, Perancis bisa menyambung ucapannya lagi. “Bagaimana tuan-tuan…?. Mau mencoba frigate La Fayette yang telah dilengkapi teknologi Stealth ?”, ujarnya sambil bersenandung lagu last tango in paris.

Tampaknya kecil kemungkinan bagi Indonesia membatalkan pembelian Sigma 10514 Belanda karena telah menandatangani kontrak. Kecuali mau membatalkan pembelian 3 korvet Nakhoda Ragam Class ex Brunei Darussalam, ditukar dengan Frigate La Fayette, berikut ToT-nya.
 
 
 
Frigate La Fayette Perancis
 
Pilihan yang sulit karena TNI AL harus mengejar kuantitas MEF (minimum essensial Force) 2014.
 
Tampaknya langkah Malaysia berpartner dengan Perancis untuk urusan kapal laut sudah tepat. Mereka memesan kapal Selam Scorpene Class ke Perancis. 

Dan kini Malaysia juga memesan 6 Light Frigat Gowind Class ke Perancis dengan imbalan ToT. Bahkan Gowind Class kedepannya akan dibangun di Malaysia.

Langkah yang diambil oleh Angkatan Laut Malaysia, terukur dan tepat sasaran.

Berbicara tentang ToT, kini Angkatan Darat terus melaju dengan pembangunan Rudal Nasional yang diharapkan memiliki jangkauan tembak di atas 100 km pada tahun 2014. Targetnya adalah peluru kendali dengan jarak tembak 300 – 500 Km. 

Begitu pula dengan TNI AU melaju dengan proyek IFX dan diharapkan 6 prototype IFX rampung pada tahun 2013.


Sumber : JKGR