Saturday, 22 September 2012
TNI AL Pesan Dua Kapal Tunda ke PT. PAL
KRI Leuser-924 yang diserahkan PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari kepada TNI AL pada 22 Agustus 2002, adalah Kapal Tunda Samudera terbesar di Asia Tenggara, dengan panjang 71,50 meter dan berkecepatan 15,20 knots, memiliki kemampuan multifungsi di antaranya sebagai kapal angkut pasukan berkapasitas 120 orang, serta digunakan sebagai kapal hidrografi. (Foto: Dispenal)
21 September 2012, Surabaya: TNI Angkatan Laut memesan dua unit kapal tunda samudera kepada PT PAL Indonesia (Persero) yang kontraknya didasarkan surat perjanjian jual beli antara Dinas Pengadaan TNI AL (Disadal) dengan PT PAL Indonesia pada 20 Desember 2011.
Pembangunan dua unit kapal tunda itu ditandai dengan "Keel Laying" yang disaksikan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di Bengkel Assembly CBL, Divisi Kapal Niaga, PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jumat.
Pada kesempatan itu dilakukan penandatanganan berita acara Keel Laying di Bengkel Assembly Curve Bock Line (CBL) Divisi Kapal Niaga oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto bersama Direktur Produksi PT PAL Indonesia (Persero) Ir Edy Widarto.
Selain Kasal Laksamana TNI Soeparno, acara itu juga disaksikan Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Firmansyah Arifin, Wakil Komisaris PT PAL Indonesia (Persero) Laksamana Muda TNI (Purn) Sunardjo, dan undangan lainnya.
Kapal itu merupakan kapal kedua dari dua unit kapal tunda 2400 HP yang dipesan oleh TNI Angkatan Laut berdasarkan surat perjanjian jual beli nomor: KTR/1055/02-48/XII/2011/Disadal yang sesuai rencana akan diserahkan pada Juni 2013.
Ukuran Utama Kapal Tunda 2400 HP
• Panjang Keseluruhan (LOA): 29.00m
• Panjang Garis Air: 26.50m • Lebar: 9.00m • Tinggi Sampai Geladak Utama: 4.50m • Sarat Air Desain: 3.50m • Tinggi Ruang Akomodasi: 2.50m
Daya Tarik
Daya tarik pada daya maximum motor pokok (100% MCR) adalah 30TON pada kondisi sarat desain.
Kecepatan
Kecepatan normal operasi (free running) 100% MCR pada sarat kondisi muatan 50% adalah 12 knot, pada perairan dalam dan tenang serta kondisi cuaca tidak melebihi skala Beaufort 2.
Kecepatan menunda ≥ 5 knot.
• Jumlah ABK: 10 orang
• Klass : Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)
Sumber: ANTARA News Jatim
Pemerintah Beli Apache, Parlemen Inginkan Chinook
Upacara penyerahan pertama helikopter AH-64D Apache Block III ke U.S. Army di Mesa Arizona, 2 November 2011. Apache Block III memulai era baru dunis penerbangan militer dengan teknologi dan kemampuan canggih dimana bermanfaat bagi prajurit dan komandan di medan tempur. Boeing akan membuat 51 unit AH-64D Apache Block III untuk U.S. Army berdasarkan Low Rate Initial Production. U.S. Army berencana mengakuisisi 690 unit Apache Block III. (Foto: Boeing)
22 September 2012, Jakarta: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton mengumumkan penjualan delapan helikopter serang AH-64D Apache Longbow, setelah bertemu dengan Menlu Indonesi Marty Natalegawa di Washington D.C., Kamis (20/9).
Kontrak pembelian helikopter berikut perangkat elektronik dan persenjataan diperkirakan senilai 1,4 Milyar dolar.
Pemerintah Indonesia mengajukan paket pembelian:
1. 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters,
2. 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares) ,
3. 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors,
4. 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component) ,
5. 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers,
6. 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser,
7. 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets,
8. 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets,
9. 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21) ,
10. 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, and,
11. 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles,
Paket pembelian meliputi juga perangkat penindai teman atau musuh IFF (Identification Friend or Foe), senjata berikut amunisi 30mm, perangkat latihan, simulator, perangkat komunikasi, generator, alat transportasi, kendaraan pendukung, suku cadang, dan pelatihan awak.
Kongres Amerika Serikat dikabarkan sempat tidak menyetujui penjualan Apache ke Indonesia. Pemerintah Obama menyakinkan pada Kongres bahwa penjualan ini sangat penting meningkatkan hubungan kerjasama komprehensif antar dua negara dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Konflik di Laut Cina Selatan antara China dan sejumlah negara serta peningkatan kekuatan militer China, membuat pemerintah Amerika Serikat mencari dukungan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik.
Pembelian ini mengejutkan kalangan kalangan legislator, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin mengatakan "Benar-benar mengejutkan karena selama ini Kemenhan/TNI tidak pernah merencanakan pembelian heli Apache baik dalam APBN 2012 maupun RAPBN 2013 yang akan datang," dikutip media on-line Jurnal Parlemen di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (22/9).
Tb. Hasanuddin membenarkan TNI berencana membeli 8 helikopter serang senilai 90 juta dolar dan 16 helikopter serbu senilai 170 juta dolar. Kedua paket pembelian ini akan dibeli dari PT Dirgantara Indonesia (DI) dan telah dilakukan kontrak. Sedangkan pembelian Apache akan dilakukan dengan Boeing, Co. "Pemerintah sebaiknya konsisten saja dengan rencana semula," sambung Hasanuddin.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq menyesalkan pembelian ini, seharusnya pemerintah membeli helikopter angkut berat Chinnok akan lebih cocok untuk operasi militer di Indonesia.
“Kami di Komisi I telah meminta Menteri Pertahanan membeli helicopter Chinook sejak tahun lalu melalui skema MFS (Military Foreign Sales), dimana Chinook lebih berguna dan pesawat multi-fungsi,” ucap Mahfudz.
Mahfudz berpendapat salah satu tugas militer membantu penangganan bencana alam, dimana helikopter Chinook dapat bertugas mendistribusikan bantuan ke wilayah bencana. Tugas ini lebih cocok diemban oleh Chinook dibandingkan Apache.
“Kami tidak berdebat mengenai kegunaan helikopter serang seperti Apache, tetapi prioritas utama saat ini adalah Chinnok,” tambah Mahfudz. .
“Jika Amerika Serikat menawarkan keduanya kepada Indonesia, kami berterima kasih untuk itu,” pungkas Mahfudz.
TNI AD saat ini mengoperasikan 5 helikopter serang Mi-35P buatan Rusia dan 15 NB-105CB yang dipersenjatai senapan mesin atau FFAR (Folding Fins Air Rockets). Pembelian AH-64D Apache Block III Longbow menjadikan kekuatan udara TNI AD makin berotot. Apache Block III helikopter terbaru yang dibuat Boeing untuk U.S. Army. TNI AD akan menerima juga total 26 unit NBell-412EP yang dirakit di PT. DI.
Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad) merencanakan mengembangkan kekuatannya menjadi tiga belas skadron disebar di wilayah strategis Indonesia hingga 2029. Saat ini, Puspenerbad memiliki empat skuadron helikopter, terdiri dari Skadron 11/Serbu di Semarang, Skadron 21/Serba Guna di Pondok Cabe, Jakarta, Skadron 31/Serbu di Semarang, dan Skadron 12/Serbu di Waytuba, Lampung.
Sumber: AFP/Jakarta Globe/DSCA/Jurnal Parlemen
Friday, 21 September 2012
Indonesia Borong 8 Helikopter AH-64D Apache Longbow
AH-64D Apache. (Foto: U.S. Army)
21 September 2012, New York: Indonesia akan membeli delapan helikopter Apache dari Amerika Serikat, yang disebut-sebut menjadi sebuah tanda bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan menyangkut peningkatan keamanan kawasan.
Menurut laporan AFP seperti yang dipantau ANTARA, Kamis, pembelian itu diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa di Washington, Kamis.
Hillary mengatakan Pemerintah AS telah "menginformasikan kepada Kongres tentang potensi penjualan delapan helikopter AH-64D Apache Longbow kepada pemerintah Indonesia."
"Perjanjian ini akan memperkuat kemitraan menyeluruh kita dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," ujar Hillary.
Ia tidak menyebutkan nilai penjualan kedelapan Apache yang akan dibeli oleh Indonesia itu.
Menlu Marty Natalegawa dan Menlu Hillary Clinton pada Kamis masing-masing memimpin delegasi kedua negara melakukan Pertemuan Komisi Bersama (JCM) RI-AS yang ketiga setelah mereka sebelumnya melakukan pertemuan serupa di Washington DC pada tahun 2012 dan di Bali tahun 2011. Komisi Bersama itu merupakan mekanisme kerangka kemitraan menyeluruh, yang secara resmi diluncurkan tahun 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Obama ketika Obama berkunjung ke Indonesia.
Sementara itu, seperti yang diungkapkan Departemen Luar Negeri AS pada laman mereka, Hillary menyebut Indonesia sebagai "mitra yang alami" bagi AS dan menekankan pentingnya hubungan kedua negara menyangkut stabilitas kawasan.
"Sebagai negara demokrasi terbesar kedua dan ketiga di dunia, kita adalah mitra alami, dan Amerika Serikat melihat Indonesia sebagai landasan bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik," ujarnya.
Menlu Hillary mengatakan hubungan AS dengan Indonesia adalah pondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebutkan, sejak tahun 2000, perdagangan bilateral kedua negara telah berlipat ganda hingga mencapai 27 miliar dolar AS (sekira Rp257,9 triliun) tahun lalu.
"Perjanjian senilai 21 miliar dolar (Rp200,6 triliun) antara Lion Air dan Boeing merupakan yang terbesar dalam sejarah Boeing," ujar Hillary.
Spesifikasi standar AH-64D Apache. (Sumber: Boeing)
Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unit pesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.
Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.
"Sektor gas alam Amerika telah menarik investasi dari perusahaan-perusahaan energi Indonesia di sini. Sebuah Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Celanese, yaitu sebuah perusahaan Amerika, kemungkinan mengarah kepada fasilitas baru bernilai miliaran dolar yang akan mengubah batu bara menjadi etanol," tambah Hillary.
Menlu Marty Natalegawa sepakat dengan mitranya itu bahwa Indonesia dan AS memiliki kemitraan yang kuat.
"Kemitraan yang menguntungkan kedua belah pihak dan pada saat yang sama meluas di luar tingkat bilateral, ditambatkan dan dikendalikan oleh keyakinan kuat kedua negara bagi perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia Pasifik," kata Marty.
Sumber: ANTARA News



