Pages

Thursday, 14 November 2013

LATBAKJATRAT Integrasi PUSSENARHANUD TA 2013


Latbakjatrat Integrasi merupakan latihan puncak terrpusat dari Pussenarhanud yang diikuti oleh hampir seluruh satuan Arhanud yang berkedudukan di Pulau Jawa.

Latihan terpusat ini dilaksanakan pada tanggal 25 s.d. 27 September 2013 dan dilaksanakan di Pesisir Pantai Bocor, Kec Ambal, Kab Kebumen, berdekatan dengan dislitbang AD.


Pelaksanaan latihan ini diikuti oleh 7 satuan Arhanud diantaranya, Yonarhanudri 1/1 K dengan meriam 23 mm/GB, Yonarhanudri 3/SLW dengan meriam 40 mm/L-70, Yonarhanudse 6/F dengan meriam 57 mm/S-60, Yonarhanudse 10/F dengan meriam 57 mm/ S-60, Den Rudal 003/F dengan meriam 23 mm/Zur dan rudal jenis Poprad, Yonarhanudse 15/Dip dengan meriam 57 mm/ S-60, Yonarhanudse 8/Brw dengan meriam 57 mm/ S-60.


Latihan ini bertujuan untuk melatih para prajurit di jajaran satuan Arhanud agar siap untuk mengawaki alutsista yang ada di satuan masing – masing. Sistem pelaksanaan latihan ini menggunakan sasaran udara yaitu LTD (Long Target Drone).


Pussenarhanud menyiapkan 4 buah target yang akan dijadikan sasaran tembak dari meriam – meriam yang telah disiapkan. Target udara ini akan terbang sesuai lintasan yang telah ditentukan (datang langsung). Meriam yang telah disusun bersaf menghadap ke arah laut lepas dan siap menembak sasaran tersebut.


Penembakan dimulai pada tanggal 26 september 2013. Target udara pertama diterbangkan melintasi meriam – meriam yang telah disusun di pesisir pantai. Setelah beberapa kali melintas akhirnya target udara pertama berhasil dijatuhkan.


Dalam rekaman ulang terlihat bahwa munisi 23 mm yang mengenai dan menghancurkan sasaran, dan meriam 23 mm/GB yang terlihat jelas tepat mengenai badan target tersebut. Awak penembak yang berhasil menembak jatuh target adalah Praka Dwi Santoso.


Tidak lama kemudian target kedua diterbangkan. Setelah beberapa kali melintas di atas kawasan tembak akhirya target kedua pun hancur, dan terlihat jelas meriam 23 mm/GB yang kembali tepat mengenai bagian kepala target tersebut. Dalam rekaman ulangpun tampak jelas bahwa munisi treasure menyala yang dimiliki oleh meriam 23 mm/GB tepat sasaran. Awak penembak kali ini adalah Praka Septi Riyanto.


Pada hari kedua, tanggal 27 September 2013 masih terdapat 2 sasaran yang belum diterbangkan. Sasaran pertama ini khusus untuk penembakan rudal Poprad yang dimiliki oleh satuan Den Rudal 003/F. Namun saat penembakan Rudal jenis Poprad ini gagal mengenai sasaran.


Kemudian sasaran ini jatuh karena ada eror di bagian kendali sehingga dianggap sasaran hilang. Tidak lama kemudian sasaran terakhir diterbangkan.


Pada putaran terakhir setelah beberapa kali melintas, akhirnya sasaran ini dapat dijatuhkan kembali oleh meriam 23 mm/GB yang diawaki oleh Praka Dwi Santoso. Terlihat jelas munisi kaliber 57 dan 40 dan 23 mm yang dimiliki satuan lain gagal mengenai target. Namun munisi 23 mm/GB yang tampak jelas berhasil mengenai tepat di bagian receiver target pesawat ini, sehingga pesawat hancur.


Prajurit Yonarhanudri 1/1 K berhasil menembak 3 diantara 4 target yang diterbangkan. Dengan alutsista meriam 23 mm/GB yang memiliki sifat tembak menyebar dan munisi treasure tampak bahwa Yonarhanudri 1/1 K mampu menjawab pertanyaan dan keraguan tentang profesionalitas prajurit sebagai awak alutsista tersebut. Selain itu selama pelaksanaan latihan Yonarhanudri 1/1 K mampu merebut predikat sebagai satuan terbaik.


Yonarhanudri 1/1 K memiliki posko terbaik diantara jajaran satuan Arhanud yang lain, dinilai dari kesiapan dan kebersihan di posko tersebut. Serta dengan prajuritnya yang mampu membangkitkan semangat serta memiliki moril yang lebih diantara jajaran satuan arhanud yang lain.


Saat hari terakhir penembakan Pangkostrad menyempatkan diri untuk mengunjungi latihan ini. Dimana pangkostrad berpesan, “Alutsista yang tepat dan awak yang menguasai alutsista tersebut yaitu Prajurit Kostrad yang mampu menjawab keraguan atas profesionalitas prajurit TNI-AD”.


batalyon arhanudri1 

Cerita KSAD Budiman Naik Helikopter MI-17


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn6i3xpLY0iBT3or052R1A7qS8w9_x1efmhGIeP4L9By9dI_lOxiWwjLmJSbSRp-mxbQsdh2rp5MyGIp7cgNaUoTCM_3a32G27o_9u9lcv4YH699qRYi0Z8lfdcg7tNjHGW60JCGt2Ajk/s1600/helikopter-mi-17-milik-tni-ad-_131109180455-516.jpg
Mi17 TNI AD
Jakarta Tragedi jatuhnya Helikopter MI-17 yang menewaskan 13 dari 19 penumpang di Malinau, Kalimantan Utara menyisakan duka mendalam. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman pun memiliki kenangan sendiri terbang dengan pesawat buatan Rusia itu.

Menurut Budiman, helikopter itu merupakan salah satu peralatan terbaik yang dimiliki Indonesia. Pesawat jenis itu juga baru saja didatangkan ke Indonesia dan kondisinya masih sangat bagus.


Pengalaman Budiman terbang bersama MI-17 diawali saat perjalanannya menyusuri hutan di Kalimantan.

Kala itu, penerbangan dilakukan dalam rangka meninjau Ekspedisi Khatulistiwa.


"Saya gunakan itu di Kalimantan 4 kali penerbangan. Pada saat saya tahun 2011, 2012 pada saat saya meninjau dan menutup Ekspedisi Khatulistiwa, saya menggunakan untuk terbang," katanya usai menerima kontingen penembak TNI Angkatan Darat yang baru saja menang dalam Kejuaraan Menembak se-Asia Tenggara di Mabes AD, Rabu (13/11/2013).

Budiman menuturkan, kala itu dia menyusuri hutan belantara di Kalimantan dari satu titik ke titik lainnya. Butuh waktu 1,5 jam untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Dan, sepanjang penerbangan, tak ada yang dilihat selain hutan belantara dengan pohon yang sangat tinggi.

"Itu memang kalau terbang dari satu titik ke tempat lain lebih dari 1,5 jam yang kita lihat hanya hamparan hutan dan tidak ada medan medan terbuka. Jadi sepanjang 1,5 jam itu hutan yang luar biasa lebatnya. Ketinggiannya sangat tinggis seklai untuk pohon-pohonnya 3 tingkat untuk pohon pohonnya. Sehingga kalau kondisi pesawat sangat bagus," tuturnya.

Pengalaman itu, kemudian dikonversi ke tragedi yang baru saja menimpa jenis helikopter yang pernah membawanya menyusuri hutan Kalimantan. Dari segi muatan, kata Budiman, daya angkut MI-17 mencapai 3 ton.

Sedangkan, saat itu helikopter membawa logistik seberat 450 kg dan awak pesawat berjumlah 19 orang. Jika dijumlahkan, beban yang diangkut baru 1.850 kg. Ditambah tangki cadangan dengan berat maksimal 300 kg. Jadi, total muatan yang diangkut MI-17 saat itu bari 2.150 kg.

"Sehingga untuk beban tidak. Lebih betul-betul 10 meter turun mendarat ada angin yang cukup kencang, karena ketinggiannya 1.600 meter. Di atas puncak ketinggian yang kiri kanannya jurang. Tapi sekitarnya pohon yang sangat tinggi sekali."

"Tapi panjangnya sudah benar, yaitu 100x60 meter untuk kepentingan pendaratan. Dia sudah hapal benar, pilot meminta mekanik periksa kiri kanan, ok aman. Bersamaan dengan itu ada angin cukup kuat. Akhirnya buntutnya menyangkut pohon," ungkap Budiman.

Yang tersisa dari helikopter itu hanya bagian yang tersangkut dari pohon. Sisanya, sudah hancur akibat ledakan pasca menabrak pohon.


liputan6 

Kisah Wing Garuda dalam Operasi Trikora: Baku Tembak Hingga Pendaratan Darurat


Para pilot Wing Garuda yang terlibat dalam misi tempur untuk membebaskan Irian Barat dalam Operasi Trikora memiliki risiko sama seperti para pilot pesawat militer lainnya. Dalam kondisi genting mereka bahkan harus siap baku tembak saat berada di darat. 

Ketika pemerintah RI mencanangkan Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk membebaskan Irian Barat dari kolonialisme Belanda (1962), para awak dari maskapai penerbangan Garuda juga dilibatkan. Komando Tertinggi (KOTI) Trikora membentuk Wing Garuda (WG) dan Wing Garuda 011 (WG 011) yang merupakan kekuatan bala cadangan udara untuk mendukung kekuatan AURI. Tugas utama yang dibebankan kepada WG dan WG 011 adalah melaksanakan penerbangan penyusupan, penerjunan sukarelawan dan pasukan tempur, angkutan logistik, komando Kendali udara, pelacak cuaca, angkut personel, serta SAR.

Untuk melaksanakan sejumlah misi yang cukup riskan itu, WG dan WG 011 menggunakan pesawat-pesawat transpor seperti DC-3 Dakota, C-47 Skytrain, dan ConvairB-36. Dalam setiap penerbangannya para pilot WG dan WG 011 akan menghadapi risiko dihadang oleh pesawat-pesawat tempur Belanda yang saai itu tergolong canggih, yakni MK-06 Hawker Hunter, AS-4 Firefly, P2V-7 Neptune, dan B-26 Invader. Selain sergapan pesawat tempur penerbangan rahasia WG dan WG 011 juga kerap menghadapi cuaca buruk serta radar musuh sehingga harus terbang pada ketinggian rendah (tree top) di atas kawasan hutan lebat atau perairan yang ganas siang maupun malam hari. Setelah Irian Barat diserahkan ke pangkuan RI melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) pada 1 Oktober 1962, tugas yang harus dilaksanakan WG dan WG 011 untuk membereskan Irian Barat tetap berlangsung.

Salah satu misi yang berpotensi menimbulkan konflik bersenjata adalah ketika personel WG dan WG 001 ditugaskan Panglima Tertinggi (Presiden) untuk mengambil alih perusahaan penerbangan Belanda, De Kroonduif NV yang berada di Irian Barat. Tim dari WG kemudian membentuk satu kontingen yang kurang lebih terdiri dari 40 orang yang memiliki kemampuan mengelola perusahaan penerbangan, penerbang, dan teknisi. Sebagai pimpinan kontingen ditunjuk pilot senior Captain M Syafei, yang diberi wewenang penuh untuk mengelola perusahaan penerbangan yang diambil alih beserta fasilitas pendukungnya seperti hanggar, gudang suku cadang, fasilitas pemeliharaan, hotel, dan lainnya. Captain Syafei sendiri saat ini masih hidup sehat dan berumur 83 tahun serta masih aktif mengikuti dunia penerbangan Tanah Air dan sebagai pengajar di Jurusan Teknik Penerbangan, Universitas Trisakti, Jakarta.

Kontingen yang juga dibekali kemampuan bertempur itu dilantik oleh Presiden Sukarno pada 13 Desember 1962 melalui upacara sederhana dan singkat. Perasaan bahwa misi ke Irian Barat itu merupakan misi tempur sekali jalan (one way ticket) sangat terasa ketika Bung Karno memberi perintah yang intinya berbunyi, ‘’Kibarkanlah bendera-bendera ini (Merah Putih, bendera pasukan PBB, dan bendera Garuda) pada saat ayam berkokok tanggal 1 Januari 1963’’. Para pilot kontingen yang berjumlah 14 orang tidak hanya berdebar-berdebar karena adanya perintah bertempur itu, tapi juga was-was karena harus terbang di atas wilayah Irian Barat yang belum dikenal dan di bawahnya terhampar hutan belantara yang belum banyak disentuh manusia.

Untuk menghadapi kemungkinan terburuk setiap personel kontingen dibekali pistol. Agar tidak mencolok pistol ditaruh dalam koper dan ditempatkan secara tersembunyi. Untuk penggunaan persenjataan dan kemampuan tempur para personel Wing Garuda telah mendapat latihan militer dari TNI AU dan diselengarakan selama dua minggu di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Kontingen WG diberangkatkan ke Biak dari Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta pada 18 Desember 1962 pukul 03.00 dini hari menggunakan pesawat Lockheed L-188 Electra. Penerbangan berjalan lancar dan kontingen pun tiba di Lapangan Terbang Mokmer, Biak dengan selamat. Kontingen kemudian menuju ke gedung perkantoran De Kroonduif NV dan di luar dugaan disambut hangat oleh staf pimpinan perusahaan, Albert Janssen. Sebagai pimpinan rombongan Captain Syafei sangat salut terhadap para staf dan pekerja Belanda yang sangat kooperatif dan mematuhi keputusan undang-undang (tentang penyerahan Irian Barat yang disahkan oleh PBB) yang sedang berlaku. ‘’Mereka sama sekali tidak menunjukkan permusuhan. Secara politik Indonesia-Belanda memang bermusuhan tapi dalam hal profesi mereka benar-benar bertanggung-jawab dan kooperatif,’’ papar Syafei.

Tugas non penerbangan

Suasana di hari pertama yang menyejukkan itu tiba-tiba berubah drastis karena salah satu anggota kontingen, Gunadi, yang sedang mengendarai mobil secara tak sengaja telah menabark seorang penduduk Irian Barat sehingga mengalami luka cukup serius. Rupanya jalan di Irian Barat yang belum dikenal dan sikap penduduk Irian Barat yang masih sembrono menjadi penyebab kecelakaan fatal itu.

Insiden kecelakaan itu jelas menjadi potensi dari penduduk lokal untuk melancarkan aksi kekerasan. Tapi Janssen yang notabene berada di pihak ‘’musuh’’ ternyata bersikap kooperatif. Dengan pendekatan secara kekeluargaan insiden kecelakaan itu dapat diselesaikan tanpa menimbulkan konflik kekerasan. Pihak De Kroonduif rupanya sangat patuh hukum dan bersedia menyerahkan sejumlah pesawat dan fasiltasnya. Pesawat dan fasilitas yang diserahkan ke kontingen antara lain dua Dakota, tiga Twin Pioneer, tiga Beaver berikut terminal laut yang berada di tepi pantai Mokmer, fasilitas pemeliharaan, gudang suku cadang, dan lainnya. Berdasar pengalaman kontingen, manajemen dan organisasi segera disusun dengan nama perusahaan Garuda Irian Barat. Para personel Kontingen harus bekerja super cepat, hanya ada waktu satu minggu karena para personel Belanda dari Kroonduif akan segera pulang ke negaranya untuk merayakan Tahun Baru dan Natal.

Tugas yang paling membingungkan bagi Kontingen adalah ketika mengurus Hotel Rift karena sama sekali tidak memiliki pengalaman. Dengan prinsip pantang mundur Kontingen akhirnya bekerja dengan cara meniru pekerjaan rutin seperti yang dilakukan oleh karyawan Belanda sebelumnya. Pekerjaan yang sangat mendebarkan adalah ketika harus melakukan pengecatan pesawat Twin Pioneer sampai jauh malam menjelang akhir tahun. Untuk melaksanakan pengecatan pesawat yang dibutuhkan kemampuan khusus dilakukan Captain Syafei dibantu satu orang yang diutus oleh Departemen Perhubungan, Agil.

Cat warna Merah Putih Biru di lambung pesawat yang melambangkan bendera Belanda harus dihapus diganti warna Merah Putih dan regristasi PK. Menjelang malam Tahun Baru pun semua pekerjaan telah selesai. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan pada acara pengibaran bendera yang dialkukan keesokan harinya, semua personel Kontingen menyiagakan diri dengan senapan serbu dan pistolnya. Keadaan menjelang malam memang makin menegang karena di sejumlah kawasan di Kota Biak terjadi tembak-menembak. Tapi aksi tembak-menembak sporadis itu ternyata tidak meluas ke Mokmer. (A Winardi)