Pages

Saturday, 27 December 2014

Pengadaan Alutsista TNI AL

Ilustrasi SIGMA Class PKR 10514.
Ilustrasi SIGMA Class PKR 10514.

Sistem pengadaan alutsista merupakan salah satu isu krusial dalam pembangunan pertahanan. Selama ini, banyak pihak berpendapat bahwa sistem pengadaan alutsista di Indonesia tidak efisien dan efektif, dimana disinyalir banyak terjadi pemborosan biaya dalam proses tersebut. Di sisi lain, anggaran yang disediakan pemerintah untuk kepentingan pertahanan masih jauh dari kebutuhan sebenarnya. Untuk itu, diperlukan efisiensi yang tinggi dalam pengelolaan dan pemanfaatan anggaran tersebut.


Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berupaya menata sistem pengadaan alutsista dengan mengeluarkan beberapa kebijakan yang pada intinya mengarah pada kebijakan pengadaan satu pintu. Kebijakan dimaksud adalah pengadaan alutsista bagi kepentigan TNI harus dilaksanakan melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebagai pemegang otoritas politik dalam kebijakan pertahanan. Kebijakan pengadaan satu pintu mewajibkan pengadaan alutsista TNI harus mengikuti mekanisme yang ditetapkan Kemhan dan TNI tidak dapat melakukan pengadaaan tanpa diketahui oleh Kementerian Pertahanan. Ketentuan lebih lanjut tentang pedoman dan tata cara pengadaan alutsista diatur oleh Menteri Pertahanan melalui konsultasi dengan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) dengan tetap berpedoman pada tata nilai pengadaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomer 54 Tahun 2010 dan perubahannya.

Kebijakan sistem pengadaan alutsista melalui sistem satu pintu merupakan hak yang wajar dana umum di negara-negara yang demokratis. Dalam hal alutsista yang belum dapat dibuat di Dalam Negeri, pengadaan alutsista sedapat mungkin langsung dari pabrikan yang terpercaya dan bekerja sama dengan industri dan/atau lembaga riset di Dalam Negeri. Terkait dengan industri di Dalam Negeri kemudian memunculkan kebutuhan akan ToT (Transfer of Technology) di setiap matra.
KRI Kujang 642 dan KRI Clurit, nampak dengan AK-630 pada haluan.
KRI Kujang 642 dan KRI Clurit, nampak dengan AK-630 pada haluan.

Perkembangan Alutsista di TNI AL
Meski bukan kekuatan laut terkuat di Asia Tenggara, karena posisi angkatan laut terkuat dipegang oleh AL Singapura, tapi hingga kini TNI AL diyakini sebagai angkatan laut dengan armada terbesar di kawasan Asia Tenggara, artinya dalam hal kuantitas kapal dari beragam jenis, TNI AL memang jawara.

Modernisasi Militer Indonesia sejak tahun 2009 sampai dengan 2014 ini sudah membawa penambahan kekuatan militer yang cukup signifikan bagi TNI AL. Modernisasi militer periode 2009-2014 ini disebut dengan Minimum Essential Force (MEF) Renstra I (2009-2014). MEF ini direncakanan akan dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu Renstra I (2009-2014), Renstra II (2015-2019) dan Renstra III (2020-2024). Namun, memasuki MEF Renstra II, Indonesia dihadapkan pada perubahan kepemimpinan dalam pemerintahan. Singkat kata, belum ada jaminan apakah pemerintahan Presiden Joko Widodo akan secara smooth meneruskan apa yang telah dicapai selama Renstra I. Adanya pergantian pemerintahan yang baru tentunya menimbulkan beberapa pertanyaan apakah program modernisasi militer Indonesia ini akan dilanjutkan atau tidak oleh pemerintah baru yang akan datang?
41370724IMG_20140905_140830

TNI AL sebagai matra pengawal kedaulatan Nasional di lautan telah mengalami peningkatan tajam dalam MEF I, beberapa proyek yang melibatkan anggaran cukup besar di lingkup TNI AL seperti pengadaan 3 unit Kapal Selam Changbogo Class dari Korea Selatan. Pengadaan ini menelan dana paling tidak $1.1 Miliar, belum lagi ditambah dana untuk mempersiapkan infrastruktur pembangunan Kapal Selam di Indonesia. Hal ini karena di rencanakan 1 dari 3 unit Kapal Selam tersebut akan di bangun di Indonesia, dan 2 unit lainnya di Korea Selatan. Namun ketiga unit Kapal Selam ini baru akan datang di tahun 2016-2018 mendatang. Itu artinya kontraknya memang ditandatangani di MEF I, tapi kedatangan Kapal Selam itu akan di MEF II (2015-2019). Hal ini dikarenakan pembuatan Kapal Selam yang tentunya membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Untuk kapal perang, TNI AL akan mendapatkan 3 unit Perusak Kawal Rudal (PKR) SIGMA-10514 dari Belanda dan 3 unit Kapal Perang MLRF Nakhoda Ragam Class (Bung Tomo Class) dari Inggris. Untuk 2 unit PKR ini dibagi dalam 2 tahapan kontrak dan diperkirakan PKR pertama sudah akan datang di tahun 2016 nanti. Sedangkan untuk MLRF Nakhoda Ragam Class, ketiga unitnya telah tiba di Tanah Air.
Nahkoda Ragam Class
Nakhoda Ragam Class
SONY DSC
Tank BMP-3F
Tank BMP-3F

Belajar dari pengalaman sejarah, di Indonesia sering bila ada pergantian pemerintah membuat beberapa program pemerintah sebelumnya tidak dilanjutkan atau digantikan oleh kebijakan baru yang dibuat pemerintahan yang baru. Program modernisasi militer MEF dengan segala kekurangan dan kelebihannya, sudah membawa perubahan yang cukup berarti bagi Indonesia. Kekuatan Militer Indonesia yang pada tahun 1999 sampai 2005 sangat memprihatinkan, berangsur-angsur sudah mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan berkat adanya program MEF ini.

Bukan suatu kejutan bila nantinya program MEF akan diganti dengan program lainnya, namun kita tetap berharap sekali bahwa apapun nama programnya nanti, intinya berharap bahwa modernisasi militer Indonesia tetap harus berjalan. Hal ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik beberapa tahun terakhir ditambah adanya kemungkinan ancaman konflik yang akan dihadapi Indonesia di sekitar Laut Cina Selatan.
Rudal C-705 pada KRI Kujang 642.
Rudal C-705 pada KRI Kujang 642.
Changbogo class, 3 unit akan memperkuat TNI AL
Changbogo class, 3 unit akan memperkuat TNI AL
 
Di lini armada kapal cepat, TNI AL juga akan menerima beberapa unit KCR-40 dan KCR-60 buatan dalam negeri yang dilengkapi dengan varian rudal C-705 dan C-802 buatan Cina. Juga TNI AL telah mendapatkan beberapa unit Landing Ship Tank (LST) yang bisa digunakan untuk transpotasi bagi armada MBT Leopard. Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) TNI AL juga mendapatkan 3 unit CN-235 MPA produksi Indonesia yang akan menjadi pesawat patroli maritim. Selain itu TNI AL juga akan mendapatkan 11 unit Heli Anti Kapal Selam dari Perancis yaitu AS-565 MB Phanter. Juga diberitakan TNI AL mendapatkan rudal anti kapal generasi terbaru yaitu Exocet MM-40 Block 3 yang kemungkinan akan dipakai di armada kapal perang terbaru TNI AL. Bahkan diberitakan juga TNI AL juga akan mendapatkan rudal pertahanan udara jenis VLS (Vertical Launch System) MICA dari Perancis, MICA digadang sebagai rudal anti pesawat untuk menggantikan keberadaan rudal SAM Sea Wolf di Bung Tomo Class.

Korps Marinir TNI AL juga mendapatkan 37 unit BMP-3F dari Rusia yang ditandatangani di tahun 2011 yang lalu dengan nilai kontrak US$114 juta. Ini adalah pengadaan tahap kedua, dimana sebelumnya juga sudah ada pengadaan 17 unit BMP-3F di tahun 2009. Dengan pengadaan tahap kedua ini, Marinir TNI AL sudah memiliki 54 unit BMP-3F. Beberapa waktu lalu 37 unit BMP-3F ini sudah hadir di Indonesia.

Selain pengadaan alutsista yang sudah dijelaskan diatas, masih ada beberapa pengadaan alutsista lainnya yang tentunya belum disebutkan. Namun hal diatas adalah gambaran besar pengadaan alutsista untuk TNI AL di MEF I (2009-2014).(Indomiliter)

Jagoan-jagoan Tembak di Tapal Batas

 
image
All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

Kali ini, saya akan menceritakan kemampuan para penduduk perbatasan yang rata-rata jago menembak. Hutan hujan tropis yang mengelilingi desa mereka menyimpan banyak sumber daya hewani yang bisa dimanfaatkan. Lingkungan yang berupa hutan belantara menjadikan masyarakat pandai berburu, susur hutan, dan mencari jejak. Beberapa hewan yang sering diburu diantaranya kancil, payau, kijang, babi hutan dan sebagainya. Kegiatan berburu yang dilakukan tidak lagi mengunakan alat tradisional seperti sumpit atau tombak. Sebagian besar penduduk disini sudah menggunakan senapan penabur untuk berburu. Senjata penabur memiliki satu amunisi dalam satu kali tembak, dan apabila sudah mengenai sasaran, maka amunisi tersebut akan pecah menjadi beberapa pecahan proyektil.

Hewan buruan biasanya dijual di pasar, terkadang juga dimakan sendiri. Hewan buruan itulah yang menjadi sumber protein hewani untuk masyarakat sekitar. 1 ikat daging kijang atau kancil (kurang lebih 1 kg) dihargai 30 ribu. Jauh lebih murah daripada seekor ayam potong yang bisa mencapai 150-200 ribu per ekor. Tapi anehnya, murid-muridku lebih bersemangat memakan ayam potong karena mereka bilang bosan dengan daging hewan buruan. Sedangkan bagi kami, guru SM3T, tentu lebih memilih daging kijang karena tidak bakal ditemui di pasar-pasar di Jawa. Jika siswa kami mendapat buruan, biasanya mereka datang ke rumah dinas kami, dan kami pun dengan suka hati membelinya. Karena saking enaknya daging hewan buruan, sering kami mabuk kekenyangan, hehe.
image
All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata
image
image

image
All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

image
image
All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

Jika ada waktu libur sekolah, kami terkadang berkemah bersama siswa. Kami cukup membelikan siswa bumbu-bumbu masak dan peluru penabur. Urusan mencari hewan buruan sampai masak, siswa kamilah ahlinya. Para siswa SMA, sudah tidak perlu lagi diragukan kemampuan mereka hidup di hutan. Alam sudah menyatu dalam diri mereka. Mereka sudah mengetahui dimana para hewan berkumpul, bagaimana membaca tanda dan bagaimana cara berburu yang baik.

Salah satu trik yang digunakan untuk berburu di hutan adalah jangan sampai kita berdiri searah hembusan angin tetapi harus menantang arah angin. Hal ini dimaksudkan agar hewan tersebut tidak mencium kedatangan kita. Trik kedua adalah kegiatan berburu sebaiknya dilakukan malam hari. Hewan lebih jinak dan lebih mudah mendeteksi hewan dengan bantuan senter sorot. Jika ada cahaya pantulan seperti kelereng yang berpijar, maka senter telah menyorot mata hewan buruan. Tetapi harus dipastikan juga itu adalah hewan, karena pernah ada muridku yang menceritakan bahwa yang disorot adalah hantu yang berdiam diri di hutan. Otomatis merekapun lari tunggang langgang, hehe.

Nah, dalam rangka mengakomodasi bakat dan minat masyarakat dalam bidang tembak-menembak maka Bulan Agustus kemarin, dalam rangka HUT RI ke 69, pos PAMTAS 100/RAIDER dan YonZikon 12/KJ Long Ampung, Kayan Selatan, Malinau mengadakan lomba menembak. Sebelum dibuka pendaftaran, animo masyarakat sudah membludak, salah satunya saya sendiri yang mendaftar. Karena keterbataan sumber daya, maka hanya 25 pendaftar saja yang diterima, dipilih secara adil mewakili desa dan instansi pemerintahan. Jika tidak dibatasi, mungkin bisa puluhan atau ratusan orang yang mendaftar. Salah satu faktor membludaknya animo adalah senjata yang digunakan merupakan senjata asli milik tentara yakni pistol dan senapan SS-2.

Saat hari-H perlombaan sayang sekali saya malah batal mengikutinya. Badan sedikit meriang karena sehari sebelumnya kecapekan dan kehujanan dalam mempersiapkan Upacara 17 Agustus. Posisi saya digantikan sesama rekan guru, yakni Wigih Bratanata yang akhirnya menempati peringkat 4. Juara 1 diraih oleh ketua pemuda setempat, juara kedua diraih pegawai kecamatan, sedangkan juara ketiga diraih oleh Guru SMP N 1 Kayan Selatan.

Hadiah dari lomba ini, disponsori oleh Komandan Kompi Yon Zikon 12/KJ. Juara I mendapatkan Tropi Danki Pamtas dan uang tunai dari Danki Zikon sebesar Rp. 1.000.000,00. Juara II mendapatkan Tropi Danki Pamtas dan uang tunai dari Danki Zikon Rp. 750.000,00 dan Juara III mendapatkan Tropi Danki Pamtas dan uang tunai dari Danki Zikon Rp. 500.000,00. Ada satu kejadian yang unik. Ada tantangan dari Danki Zikon kepada peserta, jika bisa menembak 2 buah botol menggunakan pistol dengan tepat maka akan dapat uang cash 1 juta. Banyak yang gagal, termasuk Danki Zikon itu sendiri yang cuma berhasil mengenai 1 sasaran. Ternyata yang berhasil menjawab tantangan itu adalah seoarang guru SMP setempat. Semua bertepuk tangan.

Melihat animo masyarakat perbatasan yang begitu besar terhadap lomba ini, diharapkan kegiatan serupa bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Syukur-syukur dari pos PAMTAS atau pihak terkait bisa membentuk sebuah klub ataupun persatuan menembak. Selain sebagai sarana tentara mendekatkan diri dengan masyarakat juga bisa dijadikan wahana mengasah skill penduduk. Jika kemampuan menembak para penduduk perbatasan dipupuk dan diarahkan, mereka bisa dijadikan semacam tentara cadangan jika sewaktu–waktu negeri Sonora berulah. Kemampuan mereka menjelajah hutan dan hidup di hutan, juga dapat dijadikan teman gerilya bagi para tentara yang belum pernah masuk hutan Kalimantan. Saya rasa biaya untuk mengembangkan sumber daya penduduk perbatasan lebih murah dari harga sebuah rudal dengan efek berkali lipat dari sepucuk rudal.

Pembentukan Kodam Papua Barat Tunggu Lahan

 
KSAD TNI Gatot Nurmantyo.
KSAD TNI Gatot Nurmantyo.

Jakarta – Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, pembentukan Komando Daerah Militer (Kodam) Papua Barat hingga kini belum terjadwal karena masih menunggu bantuan lahan dari pemerintah setempat.

Bila lahan yang dimaksudkan tidak disediakan, ia menyatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan Kodam Papua Barat itu akan dibentuk.

Mantan Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) di Merauke dan Jayapura pada 1990-an itu mengemukakan, hingga saat ini pihaknya belum memiliki lahan untuk membangun markas sehingga belum dapat dipastikan kapan pembentukan Kodam Papua Barat direalisasikan.

Pulau Papua yang luasnya tiga setengah kali Pulau Jawa itu baru memiliki satu kodam dengan 4 komando resor militer (korem) dan 14 kodim serta 113 komando rayon militer (koramil).

Kodam Cenderawasih melakukan pameran alat utama sistem senjata (alutsista) selama 3 hari di halaman Kantor Gubernur Papua di Dok 2 Jayapura, yang menampilkan berbagai alat tempur milik TNI AD, serta peralatan pertanian yang digunakan TNI AD saat kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa.

“Bila lahan sudah tersedia, maka kami siap membangun,” katanya di Jayapura di sela-sela meninjau pameran alat tempur yang digelar Kodam Cendrawasih, Jumat (26/12/2014).

Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu mengatakan, pihaknya baru akan membangun Markas Kodam Papua Barat bila lahan yang disediakan oleh pemerintah daerah letaknya berdekatan dengan kantor gubernuran, bukan sebaliknya yang jauh dari pusat pemerintahan.

KSAD Jenderal TNI Nurmantyo yang berkunjung ke Papua sejak Kamis kemarin dan sempat menghadiri Natal bersama warga di Wamena, Lembah Baliem, Pedalaman Papua. (Liputan6.com)