Pages

Monday, 30 March 2015

Pesawat TNI Sudah Siap Angkut WNI dari Yaman

Hasil gambar untuk gambar pesawat tni au 

Jakarta - Kondisi Yaman yang semakin genting membuat pemerintah berencana mengevakuasi WNI dari negeri itu. Pesawat TNI pun sudah disiapkan untuk melakukan perjalanan dan membawa TNI pulang.

"Ini baru rencana, tapi kami sudah siapkan," kata Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya, Senin (30/3/2015).

Menurut Fuad, pesawat itu berangkat bila sudah ada perintah. Saat ini TNI sudah menyiapkan segalanya.

"Semua untuk proses evakuasi," tegas Fuad.

Diketahui 20 lebih WNI ditahan oleh otoritas setempat di Yaman. Meski pihak Kemenlu RI sudah memastikan penahanan tak terkait milisi Al-Houthi, namun Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno menyatakan, pemerintah siap menjemput semua WNI di sana.

"Kita akan memulangkan mereka semua, sedang diproses oleh KBRI, semuanya akan dipulangkan. TNI sudah menyiapkan pesawat dan tergantung nanti permintaannya seperti apa," ujar Tedjo di Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Minggu (29/3).

Cikal Bakal Dibentuknya Satgas Gultor Sat-81 Kopassus

Operasi Woyla, Cikal Bakal Dibentuknya Satgas Gultor Sat-81 Kopassus - 1  
Latihan Gabungan Satuan Gultor TNI di Madiun 
 
Jakarta - Keberhasilan Kopassus 34 tahun lalu dalam pembebasan sandera teroris yang membajak Pesawat Garuda di Thailand menjadi tonggak sejarah penanggulangan aksi teror di Indonesia. Pembebasan sandera pada tahun 1981 yang dikenal sebagai Operasi Woyla tersebut menjadi cikal bakal dibentuknya Satgas Penanggulangan Teror (Gultor) Satuan-81 Kopassus.

Tepat 34 tahun lalu, Sabtu 28 Maret 1981, Pesawat Garuda DC-9 Woyla dibajak oleh organisasi teroris jihad pertama di Indonesia. Pada 31 Maret 1981, pasukan Komado Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang merupakan nama Kopassus saat itu, berhasil melumpuhkan para teroris dan menyelamatkan seluruh sandera pesawat di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand.

Operasi tersebut di bawah komando mantan Pangab Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) ABRI.

"Itu cikal bakal dibentuknya Sat 81. Dengan itu Pak Benny mendorong terbentuknya Gultor Kopassus. Dengan semangat untuk menjaga keutuhan NKRI, terutama dari aksi-aksi teroris," ungkap Komandan Sat-81 Kopassus Kolonel Inf Thevi Zebua saat berbincang dengan detikcom di Mako Kopassus, Cijantung, Jaktim, Sabtu (28/3/2015).

Sat-81 merupakan satuan elit dari Kopassus yang bertugas dalam penanggulangan teror. Satuan ini sering menggelar latihan bersama dengan satuan Gultor dari TNI AU, Detasemen Bravo (Den Bravo) yang merupakan satuan elit Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) dan Gultor TNI AL, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) yang merupakan satuan elit gabungan personel Komando Pasukan Katak dan Taifib Marinir.

Di buku Iwan Santosa dan E.A Natanegara yang berjudul 'Kopassus untuk Indonesia', dijelaskan bahwa keberadaan satuan di TNI dalam penanggulangan teror tidak terlepas dari sejarah keberhasilan Kopassus pada Operasi Woyla. Tak lebih dari 5 menit, seluruh teroris dapat dilumpuhkan dan sandera diselamatkan.

"Terinspirasi dari peristiwa tersebut dan melihat perkembangan situasi serta mengantisipasi maraknya tindakan pembajakan pesawat terbang era 1970/80-an, Kepala BAIS ABRI menetapkan lahirnya sebuah kesatuan baru setingkat detasemen di lingkungan Kopassandha," demikian penjelasan Iwan dan Natanegara dalam bukunya.

Akhirnya pada 30 Juni 1982, berdirilah Detasemen 81 Anti Teror (Den-81 AT) Kopassandha dengan komandan pertama Luhut Panjaitan yang saat itu berpangkat Mayor. Sementara Prabowo Subianto sebagai Kapten menjadi wakil Luhut.

"Kedua perwira tersebut sempat dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mendalami penanggulangan teror dan sekembalinya ke Tanah Air dipercaya menyeleksi dan melatih prajurit yang ditunjuk ke Den-81 AT," terang buku 'Kopassus untuk Indonesia'.

Detasemen 81 AT pun seiring perkembangan organisasi berubah nama pada tahun 1996 menjadi Grup 5 Anti Teror. Kemudian pada tahun 2002, namanya berubah lagi menjadi Satuan-81 Kopassus sampai sekarang.(Detik)

Bela negara bangsa Indonesia rendah

Menhan: Bela negara bangsa Indonesia rendah
Ryamizard Ryacudu
Berdasarkan survei masalah wawasan kebangsaan yang dilakukan di 106 negara, Indonesia menempati urutan ke-95."
Magelang  - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menilai, wawasan kebangsaan atau bela negara bangsa Indonesia masih terlalu rendah dibandingkan warga negara lain di dunia.

"Berdasarkan survei masalah wawasan kebangsaan yang dilakukan di 106 negara, Indonesia menempati urutan ke-95. Ini rendah sekali," katanya di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) itu menyampaikan hal tersebut saat membuka Musyawarah Nasional IX Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan TNI/Polri (FKPPI) di Kompleks Akademi Militer Magelang.

Untuk bela negara, menurut dia, harus siap mati, siap mengorbankan diri untuk bangsa dan negara.

"Bagaimana kalau jiwa kebangsaan ini tidak ada? Apakah bisa mengorbankan jiwanya? Hal ini menjadi perhatian Kementerian Pertahanan," katanya.

Ia mengatakan, waktu berlalu secara cepat, demikian juga perkembangan dunia pun semakin cepat di tengah era globalisasi saat ini.

Tantangan baru dunia yang semakin terbuka, dikemukakannya, menyadarkan dan memberikan makna bahwa bangsa ini sudah ketinggalan jauh di dalam arus globalisasi.

"Oleh karena itu, tidak mungkin kita berdiri di luar, tetapi juga tidak bijak kalau kita mengatakan seolah-olah globalisasi itu adalah sumber permasalahan dalam bernegara karena dalam kenyataannya banyak negara yang berhasil menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya melalui globalisasi," katanya.

Ia mengemukakan, faktor kemajuan teknologi informasi komunikasi berakibat terjadinya perubahan signifikan yang dapat berbentuk kesejahteraan maupun sebagai ancaman yang berpengaruh pada kondisi ketahanan nasional suatu bangsa.

Sejak merdeka, mantan Pangdam Brawijaya itu menyatakan, negara Indonesia tidak luput dari gejolak dan ancaman yang dapat membahayakan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, namun bangsa ini mampu mempertahankan eksistensinya dan intensitasnya hingga kini.

Dari aspek geopolitik dan geostrategi dalam posisi geografis, sumberdaya alam, dan jumlah serta kemampuan penduduk Indonesia penting di mata dunia dan menjadi ajang persaingan kepentingan serta perebutan pengaruh antarnegara besar secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi dan membahayakan segala aspek kehidupan.

"Untuk itu bangsa Indonesia harus memiliki keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan dalam mengembangkan kekuatan nasional agar dapat mengatasi setiap bentuk ancaman dan gangguan dari manapun datangnya," demikian Ryamizard.(ANTARA News)