Pages

Friday, 23 August 2013

Mayjen Imam Edy Mulyono ditunjuk jadi komandan pasukan PBB di Sahara


New York - Mantan Komandan Pusat Misi Pemelihara Perdamaian (PMPP) Indonesia, Mayor Jenderal Imam Edy Mulyono, ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon sebagai komandan pasukan PBB di Sahara Barat.

Hal itu diungkapkan Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Desra Percaya, usai menerima salinan surat Sekjen PBB kepada Presiden Dewan Keamanan PBB, Dubes Maria Cristina Perceval dari Argentina, demikian menurut keterangan yang diperoleh Antara dari Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York, Rabu.

Secara resmi, Mayjen Imam Edy Mulyono ditetapkan Ban Ki-moon sebagai Force Commander (FC) pada misi PBB di Sahara Barat, yaitu United Nations Mission for the Referendum in Western Sahara (MINURSO).

Imam Mulyono akan menggantikan Mayjen Abdul Hafiz (Bangladesh) dan memimpin sekitar 236 personil PBB yang terdiri atas komponen militer dan polisi yang berasal dari setidaknya 33 negara selama tiga tahun.

"Penunjukan Mayjen Imam Edy Mulyono ini didukung penuh dan disambut baik oleh seluruh anggota Dewan Keamanan PBB, dan Pemerintah Maroko selaku host country MINURSO," kata Dubes Desra.

"Ini merefleksikan kepercayaan tinggi PBB atas peran dan kontribusi penting Indonesia sebagai salah satu Negara Penyumbang Pasukan utama pada berbagai misi Perdamaian PBB."

"Peran, kontribusi dan kinerja pasukan Indonesia, Kontingen Garuda, di tujuh misi PKO PBB, yaitu UNIFIL, MINUSTAH, UNAMID, UNMISS, UNMIL, MONUSCO, dan UNISFA, sangat dihargai oleh dunia internasional, pemerintah dan masyarakat setempat," tambahnya.

MINURSO merupakan misi Pasukan Perdamaian PBB yang dibentuk berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 690 tahun 1991.

Pembentukan misi di Sahara Barat itu sejalan dengan kesepakatan antara Pemerintah Maroko dan kelompok Frente Popular para la Liberacion de Saguia el-Hamra y de Rio de Oro (Frente POLISARIO), yang dicapai pada tanggal 30 Agustus 1988.

MINURSO dimandatkan untuk menjalankan sejumlah tugas, di antaranya mengawasi gencatan senjata, memeriksa penurunan jumlah pasukan Maroko di wilayah Sahara Barat serta melakukan dan memastikan terselenggaranya referendum yang bebas dan adil dalam penentuan nasib rakyat di wilayah itu.

Mayjen Imam Edi Mulyono merupakan Pejabat Tinggi TNI ketiga dari Indonesia yang mendapatkan kepercayaan menduduki jabatan strategis pada pasukan penjaga permdaian PBB.

Pada tahun 1976-1978, Mayjen Rais Abin menduduki posisi `Force Commander` pada UN Emergency Force (UNEF), Mesir, dan Brigjen Susilo Bambang Yudhono, yang sekarang merupakan Presiden RI, menjabat sebagai Chief Military Observer pada misi United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja and Western Sirmium (UNTAES), Kroasia (1995-1996).

Mayjen Mulyono sebelumnya menjabat Komandan Pusat Misi Pemelihara Perdamaian (PMPP) TNI (2011-2013) dan juga terlibat dalam sejumlah operasi Misi Perdamaian PBB, diantaranya sebagai Observer Militer pada Misi PBB UNOMIG (United Nations Observer Mission in Georgia).

Mayjen Mulyono memperoleh gelar Master dari Nanyang Technological School di Singapura dan merupakan alumni United Nations Senior Mission Leader Course di Mako PMPP TNI, Sentul, Jawa Barat.(T008/B012)


antaranews

KRI Sultan Nuku-373 Siaga Antisipasi Letusan Gunung Rokatenda


Surabaya • Dalam Operasi Taring Hiu–13 KRI Sultan Nuku–373 mendapat perintah untuk bergerak ke Pulau Palue atau yang disebut dengan Pulau Raja dalam rangka membantu evakuasi warga terkait dalam letusan gunung api Rokatenda yang terdapat di pulau Palue.

Letusan gunung api yang terjadi pada hari Sabtu pagi tanggal 10 Agustus 2013 pukul 04.27 WITA memuntahkan lahar dan asap panas pada saat warga masih tertidur lelap, sehingga memakan korban jiwa sebanyak lima warga setempat, dimana tiga korban sudah ditemukan sementara dua lainnya belum ditemukan. Korban jiwa terdiri dari tiga korban lanjut usia dan dua korban anak-anak yang meninggal terkena aliran lahar saat sedang beristirahat di pondok kecil untuk mencari ikan.

Gunung api Rokatenda masih dalam status siaga semenjak meletus pada bulan Oktober 2012, jadi aktivitas vulkanis gunung ini sebenarnya telah berlangsung selama delapan bulan.

KRI Sultan Nuku–373 yang merupakan salah satu unsur gelar operasi Taring Hiu–13 yang sebelumnya sandar di Labuan Bajo dalam rangka pengamanan rally yacht untuk mendukung kegiatan Sail Komodo 2013 dimana acara puncaknya dilaksanakan pada tanggal 9 s/d 14 September 2013 dan dihadiri oleh Presiden RI, mendapat perintah dari Mako Koarmatim untuk membantu SAR evakuasi warga dari pulau Palue menuju ke kota Maumere di pulau Flores.

Berdasarkan informasi yang berhasil diperoleh dari Lanal Maumere, di pulau Palue sudah dibangun dermaga umum untuk kapal berukuran sedang namun belum diresmikan. Dermaga dengan panjang 70 meter dan lebar 5 meter ini memiliki konstruksi dari beton dan dapat disandari oleh korvet kelas Parchim yang memiliki panjang 75 meter. Atas informasi yang diperoleh dan didukung dengan tinjauan langsung oleh tim aju yang mendahului turun menggunakan sekoci maka diputuskan untuk merapat ke dermaga tersebut guna memudahkan proses evakuasi warga keluar dari pulau ini.

Begitu merapat di dermaga pada hari Selasa tanggal 13 Agustus 2013 pukul 09.00 WITA, KRI Sultan Nuku–373 langsung disambut dengan baik oleh bapak Camat Palue yang bernama lengkap Laurensius Regi beserta salah satu personil Polri, dan tertua warga sekitar yang datang langsung untuk memberikan penjelasan singkat tentang keadaan dan situasi di Pulau Palue.

Dari informasi yang diperoleh, di pulau Palue hanya terdapat satu kecamatan yang membawahi delapan desa yaitu desa Nitunglea, Rokirole, Tuenggeo, Ladulaka, Maluriwu, Reruwairere, Kesokoja, dan Lidi. Penduduk di Pulau ini berjumlah kurang lebih sepuluh ribu jiwa dengan tiga ribu Kepala keluarga. Mayoritas penduduk di sini beragama Katolik dan terdapat Gereja Bintang Laut Uwa dan Keluarga Kudus Lei.

Desa-desa yang berada di pesisir pantai tidak terkena dampak dari letusan gunung Rokatenda. Hal ini dapat dilihat dari masih normalnya aktivitas warganya termasuk kegiatan belajar mengajar di beberapa sekolah yang ada. Di pulau ini sendiri terdapat sepuluh sekolah dasar, dua diantaranya adalah sekolah perintis dan dua sekolah menengah pertama terdiri dari satu SMP Negeri dan satu SMP Swasta tanpa adanya sekolah menengah atas atau SMA.

Berbeda dengan desa-desa di pesisir, desa yang berada di pegunungan yang terletak dekat dengan gunung api Rokatenda menjadi lengang, hanya sedikit aktivitas warga yang terlihat akibat letusan gunung api Rokatenda. Dua desa yang mengalami kerusakan terparah akibat letusan gunung api Rokatenda adalah desa Rokirole dan Nitunglea. Kedua desa ini berada paling dekat dengan gunung api Rokatenda.

Sebagian besar penduduk desa ini terutama anak-anak dan orang tua sudah terlebih dulu mengungsi ke Maumere dievakuasi oleh tiga kapal sipil sedangkan sebagian lainnya masih menetap di desanya karena aturan adat yang mengharamkan penduduk untuk meninggalkan desanya tanpa ada perintah dari tetua adat. Begitu kuatnya kepercayaan adat di sini sehingga menyulitkan untuk proses evakuasi warganya.

Setelah proses dialog dengan tetua desa Rokirole, bapak Johannis Pio, warga nanti akan mengungsi pada hari Jumat pagi dengan membawa perlengkapannya. Akses untuk dapat mencapai desa ini hanya ada satu jalan beton yang menghubungkan pesisir sampai dengan desa Rokirole dan biasa ditempuh warga baik dengan berjalan kaki ataupun dengan sepeda motor, sedangkan akses untuk ke desa Nitunglea sudah terputus akibat aliran lahar dari letusan gunung Rokatenda dan untuk mencapainya harus melalui jalur laut.

Untuk jumlah warga yang telah berhasil dievakuasi sampai saat ini berjumlah 502 orang dan ditempatkan di kamp pengungsian di Maumere. Menanggapi keinginan warga, KRI Sultan Nuku–373 akan tetap disiagakan di pelabuhan hingga hari Jumat untuk melaksanakan evakuasi.

Selain melaksanakan tugas dan kewajiban dari TNI Angkatan Laut, Komandan beserta para prajurit KRI Sultan Nuku-373 juga melaksanakan pembinaan personel dan kegiatan rekreasi yang bertujuan agar tidak terjadinya kejenuhan dalam melaksanakan tugas operasi serta meningkatkan moril prajurit dalam melaksanakan pelayaran dan tugas pokok TNI-AL.

Kegiatan rekreasi itu sendiri dapat dilaksanakan bersama-sama dengan warga sekitar untuk mempererat hubungan TNI dengan masyarakat serta menciptakan gambaran masyarakat tentang TNI sebagai tentara rakyat.(Dispenarmatim)
 

Negosiator Ulung Dari Tanah Flores


Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo
memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) kepada Pelda Melkior
Sosok bapak yang berpenampilan bersahaja ini oleh masyarakat Kelurahan Tangge Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat dipanggil Bapak Melkior. Sapaan hangat bersahabat yang setiap kali dilakoninya ternyata membuat Babinsa kelurahan Tangge berpangkat Sersan Mayor (Serma) tersebut sangat dekat dan dihormati oleh masyarakat setempat.

Pria kelahiran Flores 46 tahun lalu yang memiliki 5 orang anak ini begitu menjiwai dan mencintai tugasnya hingga apapun yang dapat membahayakan dirinya tidak lagi diperhitungkan.

Hal ini bermula ketika ini pada tanggal 18 Desember 2011 lalu, tertangkap 12 orang bandar kupon putih dan ditahan di Polsek Lembor untuk menjalani pemeriksaan.

Pada tanggal 26 Desember 2011, seorang tahanan, Arnold Hapong, mengalami gangguan kesehatan dan tidak sadarkan diri. Korban langsung dibawa ke Puskesmas setempat guna mendapatkan pertolongan darurat, namun nyawanya tidak tertolong lagi. Mendengar berita Arnold Hapong meninggal di Puskesmas tersebut, keluarga korban beserta warga mendatangi Polsek Lembor meminta pertanggungjawaban Polsek dan melakukan tindakan anarkhis dengan pelemparan batu ke arah Polsek yang mengakibatkan jendela kaca Polsek sebagian pecah.

Melihat massa semakin banyak berkumpul di Polsek dan situasi mulai tidak terkendali, Serma Melkior Nandi mendatangi Mapolsek untuk menenangkan warga agar tidak berbuat anarkhis, meskipun pada waktu itu masih ada yang teriak-teriak “Bakar Polsek, hancurkan Polsek”. Atas himbauan dari Serma Melkior Nandi tersebut massa mulai agak reda, tetapi warga yang bukan dari kampung asal korban ikut memanas-manasi situasi. Sehingga massa jumlahnya semakin bertambah mengepung Mapolsek ada sekitar 500 orang dan terus bertambah. Serma Melkior Nandi terus mendekati tokoh sentral dari massa aksi dan keluarga korban untuk melakukan negosiasi supaya massa jangan bertindak anarkhis.

Suara Serma Melkior Nandi ternyata didengar dan dipatuhi tokoh dari massa serta keluarga korban dengan teriakan untuk tidak berbuat anarkhis. Warga kemudian minta ijin kepada Serma Melkior Nandi untuk melaksanakan ritual adat Kepok dengan memotong ayam jago hitam dihalaman depan Polsek Lembor. Serma Melkior Nandi mengijinkan dengan syarat tidak bertindak anarkhis yang disampaikan berulang-ulang sambil terus melihat massa dari semua sudut yang mengepung Mapolsek.

Serma Melkior yang sangat dihormati masyarakat setempat tersebut terbukti mampu mencegah anarkisme melalui himbauan yang disampaikan secara simpatik, sehingga Polsek terhindar dari pembakaran dan perusakan oleh massa yang saat itu sudah beringas.

Tindakan Serma Melkior yang telah berhasil mencegah anarkhisme perusakan Polsek Lembor oleh warga setempat merupakan tindakan kepahlawan melampaui panggilan tugas tanpa mempedulikan keselamatan jiwanya.

Untuk itu, Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya yang secara langsung diberikan pada suatu upacara militer. (Dispenad)
 
Palagan