Pages

Wednesday, 20 November 2013

Aniaya Junior Hingga Tewas, 17 Anggota TNI AL Masuk Penjara

Ilustrasi
 
 Sidoarjo: Sebanyak 17 anggota TNI Angkatan Laut anak buah kapal (ABK) KRI Fatahilah divonis tiga hingga sembilan bulan penjara karena menganiaya ABK baru hingga tewas saat masa orientasi di kapal.

Vonis tersebut dijatuhkan oleh ketua majelis hakim Pengadilan Militer Surabaya  Mayor Chk Suyanto di Jalan Raya Juanda, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (18/11). Vonis terhadap 17 anggota TNI AL itu dilakukan dalam dua kali persidangan. Sidang pertama menghadirkan delapan terdakwa dan sidang kedua dengan sembilan terdakwa.

Korban tewas akibat penganiayaan 17 anggota TNI AL lulusan tamtama dan bintara tersebut adalah Kelasi Dua Iskandar yang saat itu menjadi anggota baru ABK KRI Fatahilah. Korban meninggal pada awal Juni 2012.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim dipotong masa tahanan, karena sebelumnya para terdakwa mendekam di tahanan rata-rata 80 hari. Atas vonis yang dijatuhkan  majelis hakim Pengadilan Militer, ke-17 terdakwa anggota TNI AL Armatim Surabaya itu melalui tim penasehat hukum mereka menyatakan akan berpikir, apakah akan menerima putusan itu atau mengajukan banding.

"Tinggi rendahnya hukuman itu dijatuhkan sesuai dengan peran para terdakwa dalam melakukan penganiayaan," kata Humas Pengadilan Militer Surabaya Kapten Chk Arief Sudibya.

metrotv

KRI dan Pesawat Udara TNI AU Jalin Kerja Sama Taktis


KAPAL Perang Republik Indonesia (KRI) dengan Pesawat Udara (Pesud) menjalin kerja sama taktis melalui latihan bersama TNI Angkatan Laut (AL) tahun 2013. Latihan ini dibuka oleh Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, bertempat di Base Ops Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Juanda, Surabaya, Senin (18/11).

Asops KSAL Laksamana Muda Didit Herdiawan dalam sambutannya yang dibacakan oleh Pangarmatim mengatakan, kerja sama antara pesawat udara dan KRI harus selalu terjalin secara optimal guna pencapaian tugas pokok TNI AL selaku komponen utama pertahanan negara di laut. Menurutnya, pesawat udara sebagai kepanjangan tangan KRI, menuntut pengawak yang berkualitas dan profesional serta siap melaksanakan tugas operasi laut dimanapun dan kapanpun, baik dalam situasi damai maupun perang. Dalam rangka mewujudkan personel pengawak yang profesional serta berkualitas, maka perlu diselenggarakan latihan kerja sama taktis antara pesawat udara dan KRI TNI Angkatan laut tahun 2013.

Menurut Didit, rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan awak pesawat udara serta terintegrasinya kerja sama taktis antara pesawat udara dan KRI dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional.

Adapun, materi latihan terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pelajaran di kelas (klasikal) dan praktik lapangan. Materi klasikal meliputi pengenalan pesawat udara TNI AL, pengenalan KRI, pengenalan Pangkalan Udara TNI AL, Taktik penerbangan TNI AL, Air Joining Procedure, komunikasi taktis Heli Deck Party, pengenalan Naval Aviaton Combat Simulator, dan tactical game NACS. Sedangkan, latihan praktik yakni kerja sama taktis antara KRI dan pesawat udara TNI AL.

Latihan ini berlangsung selama lima hari, 18-22 November 2013 bertempat di Ruang Briefing Naval Aviation Combat Simulator dan Alur Perairan Barat Surabaya (APBS). Pelaku latihan yaitu satu kapal perang jenis Eskorta, Wing Udara 1 dan Lanudal Juanda.

Unsur latihan diantaranya satu KRI jenis Sigma, lima Pesud terdiri dari satu Pesud Patroli Maritim CN-235, satu Pesud NC-212 Casa, dua Pesud N-22/24 Nomad dan satu BO-105 Bolkow.

Didit menambahkan, aspek yang mendorong dilaksanakannya latihan ini adalah belajar dari pengalaman sejarah dimana peran pesawat udara dalam operasi laut mulai terbukti keampuhannya dalam peristiwa penting pada perang Pasifik, tepatnya di pertempuran Midway pada tahun 1942. Saat itu, kekuatan armada angkatan laut Amerika Serikat dan Jepang tidak pernah bertemu atau saling berhadapan.

“Kerugian yang sangat besar dialami oleh angkatan laut Jepang dengan tenggelamnya armada kapal induk mereka. Akibat serangan udara yang dilakukaan oleh pesawat-pesawat tempur yang berpangkalan di kapal induk Amerika Serikat,” katanya seperti dilansir dalam siaran pers Dinas Penerangan Koarmatim.


jurnas

Monday, 18 November 2013

Sudahkan Pembelian Alutsista TNI Sesuai Kebutuhan?


Tjahyo Kumolo anggota Komisi I DPR RI mengatakan, DPR meminta agar alat utama sistem persejantaan (alutsista) yang dimiliki TNI harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Dia mencontohkan Rusia dan Korea Selatan yang sekarang ini mulai menjadi "kiblat" baru pembelian alutsista dari Indonesia.


Menurutnya dua negara ini adalah produsen alutsista yang canggih dan teruji. Selain itu harganya juga cukup murah jika dibandingkan dengan membeli pada Amerika Serikat misalnya.


"Tetapi harus dievaluasi apakah jenis-jenis tertentu cocok atau tidak untuk digunakan di Indonesia. Di negara asal alutsista dan juga di negara-negara lain yang menggunakan alutsista itu mungkin cocok. Tapi belum tentu di Indonesia," ujarnya, Senin (18/11/2013).


Dia mencontohkan tank Leopard yang baru saja dibeli, dinilai kurang cocok kalau dipakai di Indonesia. Selain terlaku berat, juga sistem pengendaliannya tidak terlalu sesuai dengan medan di banyak tempat Indonesia.


"Jadi harus ada evaluasi yang komplit. Bukan hanya sekedar alutsista ini canggih, ini sudah banyak dipakai saja. Tetapi juga dilihat fungsinya cocok tidak dipakai disini. Jangan juga pembelian alutsista karena untuk memenuhi ide salah satu kesatuan saja," jelasnya.


Dia juga mengaku selama ini memang ada kesatuan yang niat untuk membeli alutsista jenis tertentu sangat besar. Hal itu dia nilai sangat merepotkan.


"Kami sudah mengingatkan bila keluar dari kesepakatan sama saja melanggar prosedur. Itu juga bisa melanggar Undang Undang. Karena itu kedepannya evaluasi total harus dilakukan," pungkasnya.(ran/rst)


suara surabaya