Pages

Saturday, 10 January 2015

Angkatan Laut tentukan poros maritim

Panglima TNI: Angkatan Laut tentukan poros maritim
Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko.
Saya yakin TNI AL akan mampu mewujudkan alutsista yang kuat dan hebat, karena industri dalam negeri juga sangat mendukung
Surabaya  - Dalam Upacara Serah Terima Jabatan dengan Komandan Upacara Kolonel Marinir Y. Rudy Sulistyanto yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Brigif-1 Marinir Gedangan, Sidoarjo, itu, sedikitnya 600 prajurit Korps Marinir terlibat.

Selain melibatkan 600 prajuritnya, beberapa material tempur milik Korps Baret Ungu itu juga dilibatkan dalam parade/defile, diantaranya tujuh unit Tank PT 76, tujuh unit BMP 3F, 15 unit BTR, dua unit AMX 10P, enam unit KAPA K.61, tiga unit BVP-2, lima pucuk Howitzer 105 mm, tiga unit LVT-7A dan enam unit Roket Multi Laras RM 70 Grad.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menilai TNI Angkatan Laut sangat menentukan pengembangan Poros Maritim Dunia, karena itu KSAL yang baru Laksamana Madya TNI Ade Supandi diharapkan membangun kekuatan TNI AL yang hebat.

"Saya bangga ada kemajuan TNI AL dengan pemikiran Laksamana TNI Marsetio (KSAL sebelumnya) yang membawa TNI AL sebagai World Class Navy," katanya kepada pers setelah memimpin upacara parade dan defile serah terima jabatan KSAL di Dermaga Madura, Koarmatim, Ujung, Surabaya, Selasa.

Oleh karena itu, ia mengharapkan KSAL yang baru Laksamana Madya Ade Supandi untuk membangun kekuatan TNI AL yang hebat untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, apalagi industri dalam negeri sangat mendukung hal itu.

"Saya yakin TNI AL akan mampu mewujudkan alutsista yang kuat dan hebat, karena industri dalam negeri juga sangat mendukung, seperti PT PAL. Buktinya, beberapa alutsista kita itu sudah merupakan produk dalam negeri," katanya.

Dalam sambutan serah terima jabatan KSAL dari Laksamana TNI Marsetio kepada Laksamana Madya Ade Supandi itu, Panglima TNI meminta KSAL yang baru untuk melakukan percepatan dan pengembangan kemampuan (alutsista) TNI.

"Tahun 2015 merupakan awal yang penting, karena lima tahun ke depan pada periode 2015--2019 merupakan tahapan percepatan dan pengembangan sarana dan prasarana. Kalau tahapan itu tidak tercapai akan terjadi potensi disparitas antara sarana dan tantangan dalam persenjataan ke depan," katanya.

Sebaliknya, keberhasilan tahapan itu akan mencetak TNI yang kredibel, mampu melakukan penangkalan berbagai tantangan, dan mampu mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

"Tentu, penguatan alutsista itu perlu dibarengi dengan penguatan organisasi, perawatan alutsista secara berkala, peningkatan kesejahteraan prajurit, dan peningkatan kerja sama militer antarnegara, khususnya di Asia Tenggara," katanya.

Dalam kesempatan itu, Panglima TNI juga memuji kemampuan TNI dalam tugas sosial atau non-tempur yang telah diakui dunia, termasuk peran TNI AL dalam tugas-tugas sosial itu.

"Misalnya, ketika kita membantu masyarakat Filipina yang mengalami bencana, maka kita yang pertama membantu mereka, meski tradisi saling membantu itu sudah menjadi tradisi maritim dunia, karena itulah sekarang kita dibantu militer dari Jepang, Australia, Rusia, Korea, dan Tiongkok (dalam evakuasi pesawat AirAsia yang jatuh di Selat Karimata)," katanya.

Upacara dilaksanakan secara sederhana, selain parade juga dilaksanakan defile pasukan dan material tempur, fly pass pesawat udara serta sailing pass Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), kemudian kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah di gedung Indoor Sport Koarmatim.

Laksamana Madya Ade Supandi merupakan KSAL ke-25 yang kelahiran Batujajar, Bandung, 1960. Sebelumnya, perwira lulusan AAL 1983 itu menjabat Kasum TNI, Asrena KSAL, dan Pangarmatim. Perwira yang dikenal ramah, agamis, dan tegas itu memiliki dua anak dari pernikahannya dengan Ny Endah Esti Hartaningsih, sedang anaknya menjadi dokter gigi dan perwira AL.

(ANTARA News)

warga Manokwari padati areal pameran alutsista TNI AD


Ribuan warga Manokwari padati areal pameran alutsista
Ilustrasi--Tank Scorpion 
 
Manokwari  - Ribuan warga Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua Barat dan daerah sekitarnya memadati areal pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Lapangan Borasi Distrik Manokwari Barat.

Berdasarkan pantauan di Manokwari, Selasa pagi, ribuan warga datang dari berbagai tempat di Manokwari untuk melihat dan foto bersama alat tempur TNI AD yang dipamerkan itu.

Danrem 171 Praja Vita Tama Brigjen TNI Djoko Subandrio yang memberikan keterangan pada kesempatan terpisah, mengatakan pameran alutsista tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Juang Kartika Ke-69 yang jatuh pada 24 Desember 2014.

"Pameran alutsista digelar di Lapangan Borasi Manokwari pada 5--6 Januari 2015 untuk disaksikan seluruh komponen masyarakat Indonesia di Papua Barat, terutama di Manokwari," katanya.

Ia mengatakan tujuan pameran alutsista untuk memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia yang ada di Provinsi Papua Barat tentang peralatan tempur yang dimiliki TNI, khususnya Angkatan Darat, guna mempertahankan kedaulatan negara.

Gety Mambrasar, salah seorang warga Kelurahan Sowi, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari mengaku bangga dengan alutsista yang dimiliki TNI AD tersebut.

"Saya baru pertama kali melihat secara langsung tank scorpion yang dimiliki TNI AD selama ini hanya melihat melalui siaran televisi," ujarnya.

"Tujuan kegiatan ini juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat Indonesia yang ada di Provinsi Papua Barat tentang sistem pertahanan TNI, khususnya Angkatan Darat," ujarnya.

Jenderal Bintang Satu itu berharap, masyarakat tak hanya datang melihat pameran, tetapi juga bertanya tentang kegunaan peralatan tempur TNI Angkatan Darat yang di pamerkan tersebut. (ANTARA News)

Kawah Candradimuka Para Penerbang Militer

Kawah Candradimuka Para Penerbang Militer
Perwira Sekbang Lanud Adisutjipto mengecek pesawat latih sebelum melakukan latihan terbang malam, belum lama ini.
SLEMAN - Nama Kapten Irianto, pilot pesawat AirAsia QZ 8501 yang kecelakaan dalam penerbangan Surabaya menuju Singapura, secara tak langsung “membawa” nama Sekolah Penerbang (Sekbang) Lanud Adisutjipto Yogyakarta.

Sebab sang kapten hasil didikan dari sekolah penerbang militer itu. Sistem pendidikan di (Sekbang) Lanud Adisutjipto tak perlu diragukan lagi. Sekbang sudah ada sejak Indonesia lepas dari penjajahan Jepang. Selain itu, untuk lulus pun membutuhkan waktu panjang.

Bagi “utusan” AAU, AAL, atau Akademi Militer, membutuhkan waktu setidaknya 22 bulan. Sementara dari jalur lulusan SMA melalui program Perwira Sukarela Dinas Pendek (PSDP), seperti Kapten Irianto lebih lama lagi, yakni 3,5 tahun.

Ditemui KORAN SINDO YOGYA di rumah dinasnya kemarin sore, Komandan Lanud (Danlanud) Adisutjipto Yogyakarta, Marsma TNI Yadi Indrayadi Sutanandika mengungkapkan, para penerbang didikan Sekbang dijamin sumber daya manusianya. Terutama untuk penerbang pesawat militer, baik tempur, angkut, dan heli, khususnya TNI AU. “Sebab di tempat inilah kawah candradimuka bagi calon-calon penerbang,” ujarnya.

Sebagai institusi yang bertugas mempersiapkan penerbang militer andal dan profesional, Sekbang Lanud Adisutjipto dituntut selalu berinovasi, baik menyangkut SDM maupun peralatan untuk mendukung kegiatan tersebut. Apalagi Lanud Adisutjipto juga bertugas mendidik instruktur, navigator, dan instruktur navigator penerbang.

Termasuk membina aerobatic team atau terkenal dengan nama The Jupiter. Komponen-komponen yang terlibat di dalam pendidikan di antaranya siswa, instruktur, sarana dan prasarana, silabus, kurikulum, serta evaluasi. Khusus komponen pengajar Sekbang merupakan perwira yang lulus dan memenuhi kriteria menjadi instruktur.

Mereka berasal dari satuan skuadron tempur, angkut, dan heli, sehingga sudah mumpuni menjadi instruktur kepada perwira Sekbang. “Untuk instruktur ini, bukan hanya disesuaikan dengan satuannya, namun juga persyaratan dasar lainnya. Untuk instruktur pesawat tempur sudah berkualitas sebagai elemen leader. Sementara angkut dan heli berkualitas sebagai captain pilot di kesatuan masing-masing,” ujar alumni AAU 1986 ini.

Ada dua jalur perwira Sekbang TNI AU, yaitu dari jalur lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) dan lulusan SMA, tepatnya melalui jalur Perwira Sukarela Dinas Pendek. Tetapi jumlah angkatannya berbeda, yaitu AAU 32 siswa dan PSDP 20 siswa per angkatan dalam satu tahun, termasuk untuk penyebaran lulusannya juga berbeda.

Untuk AAU ditempatkan di kesatuan skuadron yang ada di TNI AU. Untuk PSDP di tempatkan di angkatan yang memerlukan atau tergantung dari kebutuhan tiap angkatan. “Bukan itu saja, untuk pendidikan juga tidak sama. Terutama untuk pendidikan keperwiraan. Untuk AAU karena sudah mendapatkan saat di akademi tidak lagi (diajarkan). Sedangkan PSDP harus menjalani pendidikan di Solo juga,” ujarnya.

Sementara pendidikan lainnya, seperti terjun payung, survival, dan bahasa Inggris, bisa bersamaan tempatnya. “Sehingga diharapkan bisa bersinergi, di samping pendidikan Sekbang sendiri,” katanya.

Ditanya jumlah angkatan, Danlanud menjawab, Sekbang dari jalur AAU sampai sekarang masuk angkatan ke-90, sedangkan PSDP memasuki angkatan ke-30. “Selain untuk Sekbang militer, selain dari AAU, juga menerima lulusan dari AAL dan Akmil, yang kemudian disebut melalui jalur akademik terpadu,” katanya.

Sementara sarana dan prasarana, ujar dia, selain memanfaatkan yang ada, juga sarana di sejumlah daerah. Misalnya, untuk survival di Waduk Sempor, Jateng; terjun payung di Sulaeman, Margahayu, Bandung, Jabar; dan area lainnya seperti renang dan menembak di AAU.

“Untuk pesawatnya, latih dasar menggunakan pesawat Grob dan latih lanjut, baik tempur maupun angkut dengan KT 1 Woong Bee. Sedangkan heli di Kalijati, Subang, Jabar,” kata Danlanud.

Mengenai penempatan lulusan Sekbang, baik dari jalur akademik militer terpadu maupun PSDP, akan dilihat dari berbagai aspek. Bukan hanya sisi akademik, tapi juga skill, kepribadian, keperwiraan, serta jasmani.

Beberapa faktor itu kemudian diakumulasi dengan bobot yang berbeda sehingga nanti diketahui rangking 1 sampai terakhir. Dari perangkingan diketahui bakat mereka dan cocoknya di mana. Jika tidak, akan ditempatkan sesuai dengan kebutuhan kesatuan.

“Contohnya kriteria masuk tempur 10 siswa, tapi hanya butuh 5, maka sisanya disebar ke angkut dan heli. Sebaliknya yang dibutuhkan tempur 10 tapi yang cocok hanya lima, mungkin hanya lima juga. Sebab kami tidak mau ada kegagalan di siswa tersebut jika dijuruskan di tempur,” kata jenderal bintang satu yang mengawali karier sebagai penerbang pesawat tempur F5 Tiger di Skuadron 14 Iswahyudi Madiun, Jatim ini.

Menurut Yadi, KSAU umumnya juga melanjutkan pendidikan ke Sekbang sehingga semua KSAU merupakan lulusan Sekbang. “Termasuk mantan Panglima TNI Marsekal TNI (Purn) Joko Suyanto,” kata adik angkatan dari Kapten Irianto ini.(sindo)