Pages

Monday, 22 June 2015

Dipercaya Kopassus Sebagai Senapan Anti Material


Hampir semua senapan anti material TNI telah di kupas di Indomiliter.com, tapi dari sekian ragam senjata heavy barrel tersebut, hanya beberapa yang benar-benar masuk kategori battle proven, dan salah satunya yang tak bisa dilewatkan adalah Barret M82A1 buatan Barret Firearms Manufacturing.
Karena menjadi senapan anti material standar pasukan AS dan banyak negara sahabat AS, wajar bila kiprah M82A1 cukup luas, medan perang di Timur Tengah dan Afghanistan menjadi ajang pembuktian senjata hasil rancangan Ronnie Barret ini. Indonesia pun yang punya kemitraan dan hubungan kerjasama militer dengan AS turut memiliki senjata penghantar maut ini. Seperti dikutip dari satuharapan.com (21/2/2015), satuan elit TNI AD Kopassus (Komando Pasukan Khusus) disebut telah memiliki 20 pucuk M82A1. Sebagai senjata perorangan, M82A1 masuk kategori SPR (senapan penembak runduk) untuk sniper.

Brigjen TNI Sabrar Fadhilah menjelaskan tentang senapan sniper tipe SPR Barrett M82A1 dalam Pameran Alutsista TNI pada Sabtu (21/2) di Jogja City Mall (JCM). (foto: satuharapan.com)
Brigjen TNI Sabrar Fadhilah menjelaskan tentang senapan sniper tipe SPR Barrett M82A1 dalam Pameran Alutsista TNI pada Sabtu (21/2) di Jogja City Mall (JCM). (foto: satuharapan.com)

Dibanding senapan anti material seperti Pindad SPR-2, Denel NTW-20, dan Zastava M-93 Black Arrow, maka M82A1 punya keunikan dari sistem operasi. M82A1 adalah senapan anti material kelas berat berkaliber 12,7 mm dengan sistem operasi semi otomatis pertama di dunia. Biarpun lahir dari proyek garasi, M82A1 pada akhirnya berevolusi menjadi menjadi senjata yang diadopsi banyak negara. Dari sisi desain, M82A1 masih menganut model konvensional dengan dua set receiver terbuat dari baja pres dan terhubung dengan cross pin yang bisa dibuka dengan mudah. Untuk ukuran kapasitas magasin, M82A1 dengan magasin berisi 10 peluru menjadi yang paling banyak diantara senapan anti material milik TNI.

M82A1_barrettm107_sniper_rifle_800

Untuk mempercepat disipasi panas, penerapan rancangan fluted barrel yang dipenuhi cekungan akan membantu mempercepat penguapan, sehingga laras tidak cepat memuai dan akurasi bisa tetap terjaga. Bila M82A1 tidak dilengkapi teleskop, masih ada BUIS (Back Up Iron Sight) yang memiliki setelan elevasi sampai jarak 1.500 meter ditambah setelan windage untuk menyesuaikan simpangan arah angin. Guna meningatkan akurasi, M82A1 dilengkapi kaki-kaki (bipod) yang bisa disesuaikan ketinggiannya. Bila dirasa belum cukup, M82A1 bisa pula dipasang di atas kaki tiga (tripod) M3/M122 milik SMB (Senapan Mesin Berat) M2HB.

Pasukan Inggris dengan M82A1.
Pasukan Inggris dengan M82A1.

Mekanisme M82A1 menerapkan prinsip laras yang bergerak ke belakang untuk mengkompensasi gaya tolak balik yang dihasilkan. Ketika peluru ditembakkan, laras bergerak ke belakang sejauh +/- 25 mm, menyentuh tonjolan pada bolt yang kemudian melepaskan bolt dari posisi kuncinya. Setelah memukul bolt, laras langsung kembali ke depan berkat bantuan sepasang pegas recoil yang terpasang di kiri kanan laras. Begitu bolt dalam posisi bebas, lengan akselerator yang membawa sebagian energi dari gaya tolak balik langsung menghantamnya, sehingga bolt akhirnya berotasi dan bergerak ke belakang. Gerakan bolt ke belakang ini sekaligus menarik keluar selongsong hasil penembakan, dan memasukan peluru baru ketika mulai bergerak ke depan. Ketika bolt kembali ke posisinya semula akibat dorongan pegas,, akan terkunci secara otomatis dengan laras dan peluru baru siap ditembakkan.

Pada awalnya, M82A1 hanya digunakan pasukan khusus AS untuk misi-misi rahasia yang membutuhkan aplikasi senapan runduk dari jarak ekstra jauh. Baru pada Perang Teluk 1991, pasukan reguler mulai memperoleh M82A1. Biarpun lahir di AS, angkatan bersenjatanya bukanlah pengguna pertama M82A1. Sejatinya adalah Swedia yang pertama kali memesan 100 pucuk M82A1 pada tahun 1989, ditambah CIA yang membeli 25 pucuk pada tahun yang sama untuk dikirim ke pejuang Mujahidin di Afghanistan. Jika awalnya diniatkan untuk menjatuhkan Mi-24 Hind Soviet, sekarang pasukan koalisi ISAF (International Security Assistance Force) di Afghanistan yang harus berhati-hati karena diperkirakan senjata ini sudah jatuh ke tangan milisi Taliban.

Untuk bisa mendapatkan Barret M82A1 memang diperlukan kocek yang lumayan, pasalnya per pucuknya di banderol US$6.600 (1992), US$7.000 (2003), bahkan situs Wikipedia.com melansir harga M82A1 mencapai US$8.900 per pucuk, tentu saja perbedaan harga terkait varian yang dibeli. Sampai saat ini Barret Firearms Manufacturing telah merilis M82A1, M82A2, M107, dan XM500. Meski beda varian ada tentu beda kinerja, tapi kaliber yang diusung semuanya adalah .50 BMG.

Dari beragam varian, yang digunakan oleh Kopassus TNI AD adalah varian dasar M82A1. Model ini dilengkapi muzzle brake berbentuk bulat, sementara varian akhir menggunakan muzzle brake berbentuk kotak dua tingkat. Selain itu M82A1 versi awal cenderung berwarna hitam karena menggunakan lapisan parkerized finish, sementara M82A1 yang sekarang beredar rata-rata berwarna metal natural. (Indomiliter)

Spesifikasi Barret M82A1 “The Light Fifty”
– Negara asal: Amerika Serikat
– Tahun pembuatan: 1982
– Kaliber: .50 BMG (12,7 x 99 mm)
– Sistem operasi: semi otomatis, short recoil
– Panjang total: 1.448 mm
– Panjang laras: 737 mm
– Bobot kosong: 12,9 kg
– Kecepatan proyektil: 854 meter per detik
– Jarak tembak efektif: 1.800 meter
– Akurasi tembakan: 1,5 – 2,0 MoA
– Kapasitas magasin: 10 peluru
Panther pinjaman TNI AL
Panther pinjaman TNI AL


20/6/2015. Angkatan Laut Indonesia akan membangun skadron Anti Kapal Selam (ASW). Menurut IHS Jane Defense, berdasarkan laporan yang diterbitkan kantor berita Antara, skadron ini akan menjadi yang pertama kali sejak tahun 1970-an bagi Angkatan Laut Indonesia untuk memiliki unit penerbangan yang didedikasikan sepenuhnya untuk ASW.

Skadron penerbangan, bernama skadron Udara 100, akan dibentuk untuk memberikan dukungan operasional terhadap armada baru di Indonesia berupa 11 helikopter Anti-Submarine Werfare (ASW) yang menggunakan helikopter AS-565 MBE Panther, menurut pejabat militer Indonesia.

“Panther kini menjadi salah satu platform termutakhir dari helikopter perang anti-kapal selam kelas ringan/ menengah dengan ASW Suite yang modern dan berkemampuan untuk beroperasi dari korvet atau fregat kecil,” tegas Philippe Monteux, Kepala Airbus wilayah Asia Tenggara & Pasifik.

Tidak ada tanggal yang ditetapkan untuk operasional skadron tersebut. Menurut sumber Angkatan Laut Indonesia yang dikutip IHS Jane Defense Weekly: “skuadron akan bertugas dekat dengan tanggal pengiriman Panther pertama.”

Ini berarti bahwa unit tersebut dapat berdiri pada awal tahun depan, karena semua 11 helikopter dijadwalkan akan disampaikan pada akhir 2017. Setelah operasional skadron ini akan ditempatkan di sebuah pangkalan udara Angkatan Laut Indonesia di Juanda, Surabaya.

“Kami ingin memastikan bahwa kemampuan tempur kami sejalan dengan platform baru dan sistem senjata yang kita terima,” kata Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana Ade Supandi dalam sebuah wawancara pada 17 Juni.

Helikopter akan beroperasi dari korvet SIGMA 10514 dan Bung Tomo Class Angkatan Laut Indonesia.

Helikopter AS-565 Panther akan dilengkapi torpedo Raytheon Mk 46 atau Whitehead A.244/S lightweight ASW torpedo dan juga dilengkapi dengan dipping sonar DS-100 helicopter long-range active sonar (HELRAS).

Menurut situs Defence Update:

DS-100 adalah versi 1,38 kHz dari dipping sonar populer AQS-18A. DS-100 mampu beroperasi di kedalaman sampai 500 meter, yang dirancang untuk pengawasan jarak jauh dan pencarian di bawah air. Dengan menggunakan processing doppler resolusi tinggi dan pulsa yang panjang, sonar ini dapat mendeteksi kapal selam bahkan dalam kecepatan sangat rendah (mendekati sinyal doppler nol). Menurut L-3, DS-100 juga cocok untuk redetection, target localization dan peluncuran senjata ke kapal selam baik di perairan yang dalam maupun dangkal.

Helikopter ini cocok dan akan dilengkapi dengan hardware buatan dalam negeri Indonesia. (thediplomat.com)

Satelit Lapan Diluncurkan Pertengahan 2015

Satelit A2 Lapan yang akan diluncurkan tahun 2014. Tahun 2019 Lapan siap Luncurkan satelit yang jauh lebih modern (photo:Lapan)
Satelit A2 Lapan

Jakarta – Setelah tertunda dua tahun maka rencananya satelit mikro buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bernama Satelit A2 Tubsat akan diluncurkan pada pertengahan 2015.
“Kabar terakhir dari India rencana peluncuran bergeser ke pertengahan 2015,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Jakarta, Jumat.

Peluncuran satelit yang telah rampung dibuat sejak 2012 tersebut, menurut Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, tertunda karena India belum juga siap menluncurkan satelitnya.

“Satelit mereka yang menjadi tumpangan A2 (Tubsat) belum rampung juga, ini karena rumit penyelesaiannya mengingat orbitnya ekuator,” ujar dia.

Satelit A2 Tubsat atau yang juga disebut Satelit Lapan-A2 selain memiliki kemampuan memantau permukaan bumi melalui video survailence seperti pendulunya yakni Satelit A1 Tubsat.

Satelit mikro ini juga ditambahkan sensor yang lebih canggih berupa receiver Automatic Identification System (AIS), muatan radio amatir melalui Automatic Posisition Reporting system (APRS), serta kamera video analog dan digital yang lebih baik.

Sensor AIS berfungsi untuk mendeteksi kapal laut yang melewati perairan sekaligus pencurian ikan di perairan Indonesia.

Sedangkan sensor APRS berfungsi menyediakan fasilitas komunikasi untuk bantuan mitigasi bencana melalui komunikasi teks dan suara via radio amatir. Sehingga jika komunikasi mati saat terjadi bencana maka data dari satelit ini memberikan bantuan komunikasi alternatif melalui radio amatir.

Satelit dilengkapi dua kamera video yang dipasang dalam satelit ini mempunyai resolusi tingkat tinggi 6 m dengan jangkuan masing-masing 12 km x 12 km dan 3,5 km x 3,5 km. Satelit berdimensi kubus dengan ukuran 50x47x38 cm dan berat 78 kg ini akan diluncurkan melalui roket PSLV-C23 milik India.

Satelit A2 Tubsat ini akan mengorbit pada ketinggian 650 km dengan pola equatorial yang menyusuri wilayah Indonesia sebanyak 14 kali, sehingga satelit akan lebih optimal memantau wilayah perairan Indonesia. (Republika.co.id)