Pages

Friday, 5 June 2015

Sudah Ditangani Mako Cijantung

Grup 2 Kopassus: Sudah Ditangani Mako Cijantung
Solo - Grup 2 Kopassus ‎Kandangmenjangan, membenarkan ada anggota dari kesatuan tersebut yang terlibat perkelahian dengan anggota TNI AU yang menyebabkan salah satu anggota TNI AU meninggal. Namun dijelaskan bahwa kasus tersebut telah ditangani oleh Mako Kopassus.

"Memang ada anggota kami yang ‎terlibat. Kasusnya sudah ditangani pusat,"‎ ujar Pasi Intel Grup 2 Kopassus Kandangmenjangan, Kartasura, Kapten (Inf) Rizal DJ, saat dikonfirmasi, Selasa (2/6/2015).


Kapolres Sukoharjo, AKBP Andy Rivai, saat dihubungi juga membenarkan bahwa telah terjadi kasus perkelahian antar anggota TNI yang terjadi setelah melakukan hiburan di Karaoke Bima, Solobaru, Sukoharjo, dan salah satunya meninggal saat dirawat di ‎rumah sakit di Yogyakarta. Kasusnya sudah ditangani Denpom Surakarta.

Dan Denpom IV/4 Surakarta, Letkol (CPM) Witono, saat dihubungi tidak bersedia memberikan tanggapan dengan alasan masih berada di Magelang mengikuti acara Presiden. Dia mengatakan baru akan memberikan pernyataan setelah nanti telah berada di Solo. Namun salah satu sumber di Pom AD di Solo, memang ada lima anggota Grup 2 Kopassus Kandangmenjangan, saat ini sedang diperiksa di Markas Denpom IV/4 Surakarta di Jalan Arifin, Solo.

Sementara itu Kapentak Lanud Adi Soemarmo, Kapten (Sus) Rindar Noor Arifianto SSos, para anggota TNI AU yang terlibat perkelahian adalah alumnus Sekolah Bintara (Smaba) angkatan ke 96 Lanud Adi Soemarmo yang sedang berada di Solo untuk berreuni. Usai bereuni mereka melepas penat dan mencari hiburan di karaoke Bima di Solobaru.(Detik)

Siswa Sesko TNI Pelajari Sistem Militer Tiongkok


Ilustrasi TNI AL
Ilustrasi TNI AL

Beijing - Lima puluh perwira siswa Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI mempelajari sistem pertahanan dan militer Tiongkok dalam rangka Kuliah Kerja Luar Negeri (KKLN) Pendidikan Reguler XLII Sesko TNI Tahun Ajaran 2015.

Dalam kegiatan tersebut para perwira siswa mengunjungi dan berdiskusi dengan beberapa pejabat lembaga pendidikan militer dan sipil terkait hubungan kedua negara, khususnya dalam kerja sama pertahanan militer, di Beijing, Selasa hingga Rabu (3/6).

Para perwira siswa mendapat kesempatan untuk mengunjungi dan melakukan diskusi dengan beberapa pimpinan dan pengajar Universitas Nasional Pertahanan Tiongkok, Divisi 4 Rudal Pertahanan Udara Angkatan Udara Tiongkok, dan divisi pertahanan darat. Mereka mengunjungi salah industri pertahanan Tiongkok.

Kerja sama pertahanan dan militer kedua negara ditandai dengan adanya forum konsultasi pertahanan Indonesia-Tiongkok. Forum Konsultasi Pertahahan Indonesia dan Tiongkok dirintis pada 2006 oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin dan Assistant Chief of General Staff Chinese People's Liberation Army Mayjen Zhang Qinsheng saat berkunjung ke Indonesia.
Pada 7 November 2007 kedua negara menandatangani Agreement Between the Government of The Republic of Indonesia and th People's Republic of China on Cooperation Activities in The Field of Defense.
Kesepakatan yang ditandatangani Menteri Pertahanan RI Juwono Soedarsono dan mitra nya Jenderal Cao Gangchuan itu menjadi tonggak kerja sama militer dan pertahanan kedua negara, yang antara lain meliputi latihan bersama, pertukaran perwira siswa dan industri pertahanan.(Berita Satu)

Cegah Konflik Laut Cina Selatan, TNI Jaga Ketat Natuna

Cegah Konflik Laut Cina Selatan, TNI Jaga Ketat Natuna
Operasi Senyap mengintai penangkap ikan ilegal oleh Tim Menteri Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
 
Jakarta - Komando Operasi wilayah I TNI Angkatan Udara berencana memperkuat Pangkalan Udara Ranai, di Natuna, Kepulauan Riau. Pangkalan Udara Ranai merupakan salah satu pintu terluar Indonesia yang menghadap Laut Cina Selatan.

"Langkah pertama kami akan meningkatkan Lanud Ranai dari tipe C ke tipe B," kata Panglima Komando Operasi wilayah I TNI AU Marsekal Muda A. Dwi Putranto kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Senin, 1 Juni 2015.

Dwi pun sudah mempersiapkan sejumlah tambahan infrastruktur ke Lanud Ranai, Natuna. Salah satunya memperbaiki dan memperpanjang landasan pacu. Tujuannya, agar pesawat tempur kelas berat TNI AU seperti F-16 dapat mendarat dan lepas landas di Ranai.

Jika infrastruktur tambahan sudah terpasang, selanjutnya Dwi akan menempatkan sejumlah pesawat tempur di Pangkalan Udara Ranai secara bergantian. Sebagai contoh sejumlah pesawat F-16 dari pangkalan udara Pekanbaru, Hawk 109-209 dari pangkalan udara Pontianak dan Riau akan dikirim bergilir ke Ranai.

"Pesawat tempur akan melakukan operasi pengamanan di Natuna selama tiga pekan," kata Dwi.

Selain itu, Dwi akan menempatkan Pasukan Khas TNI AU di pangkalan udara Ranai. Mereka akan mengemban tugas sebagai pasukan antiserangan udara. Mereka akan menyerang pesawat asing yang masuk ke Natuna.

"Sebab konflik laut Cina Selatan bisa menjadi salah satu ancaman ke Indonesia," katanya.(TEMPO.CO)