Pages

Thursday, 18 June 2015

Sepakat Tidak Akan Turunkan Prajurit di Ambalat, Indonesia dan Malaysia

ABBA GABRILLIN Panglima TNI Jenderal Moeldoko, saat melakukan pembaretan sejumlah pimpinan media massa, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2015).

JAKARTA, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan bahwa ia dan Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia telah sepakat untuk tidak lagi menurunkan prajurit di wilayah Ambalat. Menurut Moeldoko, permasalahan di Ambalat akan diselesaikan secara diplomatik.

"Saya sering berkomunikasi dengan Panglima Diraja Malaysia. Untuk bersekapat soal Ambalat, tidak perlu lagi kami turunkan pasukan bersenjata. Masing-masing memahami tidak ada yang perlu diperebutkan di sana, cuma buang-buang energi," ujar Moeldoko saat ditemui di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2015).

Moeldoko membenarkan adanya pesawat dan kapal Malaysia yang memasuki wilayah Ambalat, dari data dan informasi personel TNI yang melakukan pengawasan. Namun, pelanggaran terkait batas-batas wilayah tersebut akan diselesaikan melalui hubungan diplomatik kedua negara.

"Semua kami kelola tanpa pendekatan kekerasan. Akan kami kelola dengan konteks politik yang lebih santun, yaitu melalui protes secara diplomatik," kata dia.

Menurut Moeldoko, laporan mengenai pelanggaran batas wilayah yang dilakukan kapal dan pesawat milik Malaysia selalu ia sampaikan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno, serta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Moeldoko berharap, laporan yang disampaikan dapat ditindaklanjuti sebagai bentuk protes terhadap negara lain.

Hingga Mei 2015, sudah sembilan kali pesawat perang milik militer Malaysia diduga masuk tanpa izin ke wilayah yang berbatasan dengan Kalimantan, yaitu Blok Ambalat. Keberadaan pesawat Malaysia terdeteksi oleh TNI Angkatan Udara.

Komandan Lanud Tarakan Letkol Penerbang Tiopan Hutapea mengatakan, penetrasi pesawat asing memasuki wilayah udara Ambalat ini terpantau oleh Satuan Radar 225 Kosek II Kohanudnas di Tarakan, Kalimantan Utara.

Menurut Mayor Lek M Suarna selaku komandan satuan radar, pesawat Malaysia sering kali melakukan penetrasi. Terpantau, sudah sembilan kali pesawat militer negeri jiran lepas landas dari Tawau dan memasuki wilayah Indonesia di atas perairan Ambalat.(kompas)

PT DI Pesan Helikopter Dauphin di Paris Airshow

Paris – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memesan dua helikopter AS365 N3+ Dauphin kepada Airbus Helicopter dan pengirimkan helikopter bermesin ganda ke PT DI dilakukan dalam waktu satu tahun.

Helikopter ini akan dirakit, uji kualitas dan disesuaikan dengan permintaan PT DI termasuk peralatan misi pendukung: hoists, flotation systems, direction finder, electronic optical system, dan casualty evacuation devices.

“Kami sangat akrab dengan platform Dauphin dan yakin dengan pemasangan peralatan SAR khusus, kami bisa menawarkan solusi yang tepat kepada Pemerintah Indonesia untuk kebutuhan SAR,” jelas Presiden Direktur PT DI Budi Santoso, saat upacara penandatanganan di Paris Airshow.
PTDI_signature_ceremony
Kerjasama strategis antara PT DI dan Airbus Helikopter telah menghasilkan lebih dari 130 helikopter selama 40 tahun terakhir.

“PTDI tahu kebutuhan Indonesia dan telah berperan dalam mengamankan aset yang tepat dan peralatan untuk pertahanan negara. Akuisisi ini merupakan contoh yang baik,” kata Wakil Presiden Penjualan dan Hubungan Pelanggan Eurocopter Asia Pacific, Fabrice Rochereau.

Saat ini ada lima helikopter Dauphin dalam pelayanan di Indonesia, untuk Polisi dan Basarnas sebagai sarana penegakan hukum dan misi SAR.

Tahun lalu, Angkatan Laut Indonesia telah memesan 11 unit helikopter Panthers (versi militer) khusus anti-kapal selam, yang juga akan diselesaiikan oleh PT DI dalam tiga tahun mendatang.(Airbus)

Indonesia Kembangkan Energi Nuklir Damai Bersama Rusia

Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman terkait pengembangan penggunaan energi nuklir secara damai dengan Perusahaan Energi Nuklir Negara Rusia Rosatom dalam konferensi ATOMEXPO 2015 di Moskow. Forum ini berhasil mencetak rekor jumlah peserta yang mayoritas merupakan negara-negara pendatang baru di bidang energi nuklir. Para pakar menyebutkan hal ini sebagai sebuah potensi besar di bidang ekonomi yang tersembunyi pada setiap unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Selama ATOMEXPO 2015, Perusahaan Energi Nuklir Negara Rusia Rosatom berhasil menandatangani sejumlah besar kesepakatan kerja sama dengan negara-negara yang tengah melakukan langkah awal dalam penggunaan energi atom secara damai. Di forum ini, Rosatom menandatangani nota kesepahaman di bidang energi nuklir damai dengan Tunisia dan Indonesia. Sementara dengan Ghana, Rosatom tidak hanya menandatangani perjanjian bilateral yang menjadi dasar bagi perizinan proses kerja sama di bidang energi nuklir saja, tetapi juga rencana jangka panjang terkait hubungan kerja sama itu sendiri.

“Saat ini Ghana tidak memiliki reaktor nuklir selain reaktor yang hanya berfungsi untuk kepentingan riset. Namun dengan adanya kerja sama dengan para spesialis dari Rusia, reaktor nuklir pertama akan dibangun di Ghana,” ujar Aleksandr Uvarov, seorang pakar independen dan redaktur utama portal berita AtomInfo, mengomentari kesepakatan kerja sama tersebut.
Energi nuklir menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara berkembang berdasarkan sejumlah alasan yang objektif.
Energi nuklir menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara berkembang berdasarkan sejumlah alasan yang objektif.

Indonesia Tertarik pada PLTN Terapung Rusia

Dalam forum ATOMEXPO, delegasi Indonesia menunjukkan ketertarikan serius terhadap PTLN terapung Rusia dan pembangkit listrik bergerak lainnya. “Rosatom sedang menyelesaikan pembangunan PTLN terapung pertama di galangan kapal Baltiyskiy. Tahun depan PLTN itu akan diserahkan. Jadi, akan ada referensi teknologi untuk itu,” ujar Aleksandr Uvarov.

Pembangkit energi terapung dapat digunakan di daerah-daerah terpencil di pinggir laut atau sungai-sungai besar. Teknologi ini menjadi sebuah daya tarik besar bagi negara-negara kepulauan. Selain itu, PLTN terapung ini merupakan objek pembangkit energi mandiri dengan fasilitas tempat tinggal dan infrastruktur yang lengkap. Pembangkit listrik ini dapat dihubungkan ke infrastruktur-infrastuktur di pinggir pantai atau bahkan dilabuhkan di dekat pusat kebutuhan energi listrik.

PLTN terapung mampu memberikan pasokan energi listrik tidak hanya di titik-titik penduduk dengan akses terbatas saja, tetapi juga pada objek-objek industri skala besar di setiap wilayah perairan, seperti platform kilang minyak lepas pantai. Selain itu, PLTN terapung pun dapat bekerja di titik-titik rawan gempa.

Dari Reaktor Riset Menuju PLTN

Saat ini Indonesia juga belum memiliki satu unit PLTN sekalipun, termasuk tidak ada kegiatan ekspor dan impor energi listrik di Indonesia. Namun demikian, isu pembuatan PLTN secara aktif telah dikaji oleh Pemerintahan Indonesia sejak tahun 1997. Pada tahun 2006, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mendukung pengembangan energi nuklir di Indonesia.

Energi nuklir menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara berkembang berdasarkan sejumlah alasan yang objektif. Dengan dibangunnya PLTN, negara akan memperoleh sumber energi listrik secara independen, yang dapat memperkuat ketahanan energi negara. Sementara di bidang ekonomi, negara akan mendapatkan dorongan perkembangan yang sangat kuat, seperti tumbuhnya jumlah lapangan kerja di objek-objek pembangunan PLTN dan kemudian di PLTN yang telah berfungsi nantinya.
Dengan adanya PLTN, negara yang bersangkutan akan masuk ke dalam perkumpulan negara-negara dunia dengan teknologi paling mutakhir. Dengan kata lain, hal ini akan memengaruhi status negara tersebut di dunia. Selain itu, PLTN sebagai sebuah objek pembangkit listrik yang bekerja secara stabil dapat membuat negara memperoleh penghasilan melalui ekspor energi listrik ke negara-negara tetangga.

Berdasarkan program Pemerintah Indonesia, menjelang tahun 2025 akan dibangun empat unit PLTN. Kesepakatan kerja sama yang telah ditandatangani di ATOMEXPO tersebut secara langsung mengedepankan isu pembangunan PLTN di Indonesia dengan melibatkan perusahaan Rusia.

“Untuk negara ini (Indonesia), tanpa diragukan lagi, energi nuklir merupakan pilihan yang cocok. Saat ini Rosatom sudah bekerja sama dengan mitra-mitra di Indonesia terkait proyek pengembangan dan pembangunan konsep desain reaktor riset multifungsi. Dalam hal ini, juga terdapat sejumlah bidang untuk mengembangkan hubungan kerja sama di masa depan,” kata Wakil Dirut Rosatom Bidang Pengembangan dan Bisnis Internasional Kirill Komarov.(RBTH)